“Aliran dana asing yang masuk tersebut terutama dalam bentuk pembelian saham dan Surat Utang Negara (SUN).”
Dolar
Dolar Arief Kamaludin|KATADATA

Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah mengalami apresiasi sebesar 1,09 persen menjadi Rp 13.326 per dolar AS pada triwulan I 2017. Penguatan rupiah didukung oleh derasnya aliran masuk dana asing ke pasar keuangan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara mengungkapkan, aliran masuk dana asing mencapai US$ 5,33 miliar atau setara Rp 71 triliun sepanjang Januari-Maret 2017. “Aliran dana asing yang masuk tersebut terutama dalam bentuk pembelian saham dan Surat Utang Negara (SUN),” kata Tirta melalui siaran pers, Kamis (20/4).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menurut dia, derasnya aliran masuk dana asing tersebut seiring dengan prospek investasi pada aset domestik yang kian menarik bagi investor asing. Selain itu, membaiknya faktor global. Hingga April ini aliran dana asing disebut-sebut masih terus masuk.

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara pernah menyebut aliran dana asing hingga 5 April lalu mencapai Rp 79,1 triliun, melonjak Rp 21,5 triliun dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 57,6 triliun. (Baca juga:  BI Ramal Dana Asing di Saham dan Obligasi Tergerus Kenaikan Bunga Fed)

Lebih jauh, Tirta menjelaskan, penguatan rupiah juga disokong oleh membaiknya kinerja perdagangan internasional. Surplus neraca perdagangan barang Indonesia pada triwulan I 2017 mencapai US$ 3,93 miliar atau lebih dari dua kali surplus pada periode sama tahun lalu yang sebesar US$ 1,66 miliar.

Perkembangan positif pada arus masuk dana asing dan neraca perdagangan turut menyokong cadangan devisa Indonesia naik lebih tinggi. Penyebabnya, sebagian dana valas terkait masuk ke BI. Alhasil, cadangan devisa per akhir Maret 2017 mencapai US$ 121,8 miliar atau yang tertinggi kedua sepanjang sejarah perekonomian Indonesia. (Baca juga: Tembus US$ 120 Miliar, Cadangan Devisa Dekati Rekor Tertinggi)

Menebalnya cadangan devisa membuat BI lebih leluasa dalam melakukan operasi moneter untuk menstabilkan nilai tukar bila dibutuhkan. “Ke depan, Bank Indonesia akan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi untuk mendorong nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar,” kata Tirta.

Adapun sepanjang April ini, mengacu pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah masih bergerak di kisaran Rp 13.200 – 13.300-an per dolar AS. Pada Kamis (20/4) ini, nilai tukar rupiah diperdagangkan di level 13.328, atau melemah 0,22 persen dibanding perdagangan Selasa (18/4).

Artikel Terkait
Selama ini, kartu debit yang diterbitkan beberapa bank masih bisa diproses di mesin Elektronic Data Capture (EDC) tanpa Personal Identity Number (PIN).
Meski utang lebih tinggi dibanding aset, BI memandang perkembangan posisi investasi internasional Indonesia pada kuartal I tahun ini masih cukup sehat.
"Nanti ada potensi hitung dari persentase top-up berapa. Kalau kecil top-up-nya, jangan mahal-mahal (biaya isi ulangnya)."