Pemerintah berupaya menyesuaikan kebutuhan industri dengan sumber daya manusia dengan pendidikan vokasi.
vokasional
Siswa sekolah kejuruan Teknik Mesin menjelaskan prinsip kerja mesin motor kepada pengunjung dalam acara Expose SMK Negeri 2 Palembang, Sumatera Selatan, 7 Desember 2016. ANTARA FOTO/Feny Selly

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa saat ini ada kesenjangan antara kebutuhan industri dengan sumber daya manusia yang tersedia. Menurutnya, industri saat ini kekurangan sumber daya manusia karena keterampilan tenaga kerja yang ada kurang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Airlangga menyatakan, dengan pertumbuhan industri sebesar 5 sampai 6 persen per tahun, dibutuhkan lebih dari 500 - 600 ribu tenaga kerja industri per tahun. Sementara, jumlah tenaga kerja di tahun 2006 sebanyak 11,89 juta orang meningkat menjadi 15,54 juta orang pada tahun 2016, atau dengan rata-rata kenaikan sekitar 400 ribu orang per tahun.

Artinya, industri kekurangan rata-rata 100 ribu tenaga kerja terampil setiap tahun. Maka, pemerintah kini berupaya untuk membuat kurikulum pendidikan vokasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri.

(Baca juga:  Pemerintah Terus Dorong Pembangunan Kawasan Industri di Luar Jawa)

“Sekarang Kementerian Perindustrian buat program link and match dengan industri. Ini kunci bagi Indonesia untuk menempatkan vokasi kembali pada track-nya,” kata Airlangga dalam The Economist Event di Jakarta, Kamis (20/4).

Ia menjelaskan, pendidikan vokasi ini meliputi pembinaan dan pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang terhubung dengan industri. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar di sekolah, melainkan juga melalui politeknik atau akademi komunitas di kawasan industri dan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI).

Program ini dipayungi oleh Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 3 tahun 2017 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan Berbasis Kompetensi yang Link and Match dengan Industri. Peraturan ini telah berlaku sejak tanggal 27 Januari 2017 lalu.

(Baca juga: ADB: Anggaran Pendidikan Tak Efisien, Dampak Ekonominya Minim)

Pada tahun ini program Pendidikan Vokasi Industri diluncurkan secara bertahap di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Jogjakarta, DKI Jakarta dan Banten. Program ini menyasar 1.775 SMK dengan 845 ribu siswa akan dikerjasamakan dengan 355 perusahaan industri.