CEO Medco Roberto Lorato mengatakan perusahaannya melihat dampak akuisisi tahun lalu secara menyeluruh berpengaruh terhadap kinerja perusahaan saat ini.
Medco
Medco Energi Arief Kamaludin|KATADATA

Sepanjang kuartal I tahun 2017, PT Medco Energi International Tbk mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 322% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penyebab peningkatan laba bersih ini adalah efisiensi dan kenaikan produksi migas yang didukung kenaikan harga minyak.

Sejak awal Januari hingga akhir Maret 2017, perusahaan migas nasional ini berhasil meraup laba bersih US$ 43,1 juta atau sekitar Rp 574 miliar. Sementara pada kuartal I 2016 hanya mencapai US$ 10,2 juta. (Baca: Medco Menang Arbitrase Kasus Blok Sampang Rp 320 Miliar)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Ada beberapa faktor yang menopang perolehan laba perusahaan swasta nasional tersebut. Salah satunya peningkatan produksi. Sepanjang kuartal Itu 2017, volume produksi Medco mencapai 91, 4 juta barel setara minyak per hari (mboepd), naik 41,7 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Kenaikan produksi ini disebabkan oleh tingginya penjualan gas dari Lapangan Senoro. Selain itu peningkatan produksi berasal dari kontribusi penuh Lapangan Blok B Laut Natuna Selatan yang berhasil diakuisisi Medco sebesar 40% pada akhir tahun lalu.

Di sisi lain, harga rata-rata minyak juga meningkat 68,6% menjadi US$ 51,6 per barel dan gas juga meningkat 33,3% menjadi US$ 5,4 per mmbtu. Alhasil, pendapatan di kuartal I 2017 juga meningkat 60,7% menjadi US$210,3 juta.

Kinerja keuangan Medco tiga bulan pertama tahun ini juga ditopang penekanan biaya produksi. Selama periode tersebut biaya produksi hanya mencapai US$ 8,07 per barel setara minyak (BOE), lebih rendah  dibandingkan dengan realisasi selama 2016 US$ 8.8 per BOE. Ini  masih sesuai dengan komitmen perusahaan untuk tetap menekan biaya produksi di bawah  US$ 10 per BOE sampai 2020.

Adapun Laba sebelum Penghasilan, Pajak, Depresiasi dan Amortisasi (EBITDA) kuartal I 2017 meningkat sebesar 63,4%, menjadi US$ 108,2 juta tahun ke tahun. Sedangkan marjin EBITDA sebesar 51,5%.

Selain dari operasional, kinerja Medco semester I 2017 juga didukung dari pendapatan aset-aset perusahaan yang diakuisisinya, seperti di sektor pertambangan. Apalagi pemegang saham MacMahon Holdings Limited (MAH) telah  menyetujui usulan akuisisi 44,3 % MAH oleh AMNT.

Sebagai gantinya, MAH nantinya akan membeli peralatan bergerak AMNT dan menyediakan jasa penambangan kontrak untuk tambang Batu Hijau milik AMNT. MAH merupakan penyedia terkemuka layanan penambangan yang beragam dan komprehensif untuk klien blue chip di Australia, Indonesia dan belahan dunia lainnya. 

(Baca: Medco Masuk, Newmont Nusa Tenggara Berganti Nama)

Di sisi lain Perusahaan saat ini juga tengah menyelesaikan fasilitas produksi proyek Blok A di Aceh, apalagi sudah mendapatkan pendanaan dari tiga bank internasional. Kondisi proyek tersebut saat ini telah mencapai tahap pembangunan sebesar 48,9% dengan target produksi awal (first gas) dijadwalkan pada kuartal I 2018.

CEO Medco Roberto Lorato mengatakan perusahaannya melihat  dampak akuisisi tahun lalu secara menyeluruh berpengaruh terhadap kinerja perusahaan saat ini. Hal ini juga menjadi upaya manajemen untuk meningkatkan produksi dengan tetap mempertahankan biaya-biaya operasi.

"Fokus kami tetap meneruskan optimalisasi operasi dan segera  menyelesaikan pembangunan proyek gas Blok A Aceh yang kompleks sesuai jadwal dan anggaran," kata dia berdasarkan siaran resminya yang diterima Katadata, Senin (17/7).

(Baca: Medco Pakai Aset Kilang Arun untuk Fasilitas Produksi Blok A)

Di sisi lain, Presiden Direktur Medco Hilmi Panigoro mengatakan capaian produksi dan keuntungan kuartal I 2017 ini melampaui tahun lalu. "Saya senang dengan pencapaian kinerja yang kuat di Kuartal I 2017 ini, dimana produksi dan keuntungan Perusahaan jauh melampaui tahun sebelumnya," ujar dia.

Artikel Terkait
“Produksi migas Pertamina yang tumbuh signifikan di atas 8%, menunjukkan kuatnya komitmen perusahaan untuk terus mendukung ketahanan energi nasional,” kata Adiatma.
Menteri ESDM meminta ConocoPhillips segera mengajukan proposal pengelolaan Blok South Jambi B yang kontraknya habis 2020.
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan kemungkinan penyaluran subsidi energi nontunai itu akan dilakukan bertahap mulai dari Jawa, kemudian Sumatera.