Kenaikan laba bersih ditopang oleh pertumbuhan yang tinggi dari volume produksi, angkutan dan penjualan, optimasi harga jual rata-rata batubara, serta efisiensi
Tambang Batu Bara
Donang Wahyu | KATADATA

PT Bukit Asam (Persero) Tbk menunjukan kinerja keuangan yang cukup baik pada semester I-2017 ini. Tercatat, laba bersih perseroan tumbuh signifikan 'meroket' 242,2 persen menjadi Rp 1,72 triliun dibandingkan semester I-2016 sebesar Rp 711,8 miliar. Harga batu bara yang cenderung naik dan peningkatan produksi menjadi penyebab utama tingginya perolehan laba perusahaan.

"Kenaikan laba bersih ditopang oleh pertumbuhan yang tinggi dari volume produksi, angkutan dan penjualan, optimasi harga jual rata-rata batubara serta efisiensi yang secara terus menerus dilakukan," ujar Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Adib Ubaidillah dalam keterangan resmi di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (28/7).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Sepanjang enam bulan pertama tahun inivolume penjualan batu bara Bukit Asam meningkat 13,4 persen menjadi 11,36 juta ton. Penjualan ekspor naik 11,4 persen menjadi 4,16 juta ton dan penjualan domestik 114,6 persen menjadi 7,20 juta ton.

Karena harga batu bara yang sedang tinggi, pertumbuhan nilai penjualan bisa lebih tinggi dari volume. Bukit Asam berhasil meraup pendapatan semester I-2017 sebesar Rp 8,97 triliun. Angka ini naik 32,7 persen dibandingkan semester I tahun lalu yang hanya Rp 6,76 triliun.

"Peningkatan pendapatan ini sebagai hasil dari upaya perseroan dalam melakukan penetrasi pasar untuk menjual batubara berkalori rendah ke medium, pada saat membaiknya harga batubara dunia," ujar Adib.

Selain kenaikan volume produksi dan harga batu bara, meningkatnya laba bersih juga dipengaruhi keberhasilan perseroan dalam melakukan efisiensi. Bukit Asam masih dapat mengendalikan Beban Pokok Penjualan yakni hanya naik 10 persen dibandingkan tahun lalu.

(Baca: Belajar dari Karut Marut Tata Kelola Tambang Batu Bara)

Alhasil margin laba perusahaan sepanjang paruh pertama tahun ini meningkat signifikan. Margin laba kotor (gross profit margin) naik dari 24,4 persen menjadi 37,3 persen, margin laba operasi naik dari 12,1 persen menjadi 26,6 persen, dan margin laba bersih (net profit margin) naik dari 10,6 menjadi 19,2 persen. Sementara, laba per lembar saham pada semester I-2017 ini sebesar Rp 818 atau naik hampir tiga kali lipat dari tahun lalu sebesar Rp 290.

Posisi kas dan setara kas perseroan sendiri tercatat sebesar Rp 2,82 triliun atau turun 23,3 persen dibandingkan semester I-2016 sebesar Rp 3,67 triliun. Penurunan ini disebabkan pembayaran kewajiban jangka pendek sebesar Rp 1,52 triliun, sehingga kewajiban jangka pendek ini menurun dari Rp 5,04 triliun di tahun lalu, menjadi Rp 3,52 triliun di tahun ini.

Tahun ini Bukit Asam menargetkan produksi dan pembelian batu bara sebesar 22,37 juta ton atau naik 9,9 persen dibanding tahun 2016 yang sebesar 19,95 juta ton. Penjualan ditargetkan 23,17 juta ton. Sebanyak 58 persen yaitu 15 juta ton untuk pasar domestik dan 42 persennya atau 8,17 juta ton untuk pasar ekspor.

"Pada tahun 2017, perseroan menganggarkan sebesar Rp 2,02 triliun, terdiri dari Rp 1,48 triliun untuk investasi rutin dan non rutin, dan sisanya Rp 0,52 triliun untuk investasi pengembangan," ujarnya.

Adapun beberapa proyek pengembangan tersebut meliputi PLTU Mulut Tambang Banko Tengah Sumsel 8 dengan kapasitas 2x620 megawatt (MW), PLTU Mulut Tambang Peranap 2x300 MW, PLTU Mulut Tambang Sumsel 6 2x300 MW, PLTU Halmahera Timur 2x40 MW, dan PLTU Kuala Tanjung 2x350 MW. 

(Baca: Tekan Biaya, PLN Minta Diizinkan Punya Tambang Batu Bara)

Selain itu, juga terdapat proyek gas metana batu bara (coal bed methane/CBM) di wilayah penambangan Tanjung Enim. Kemudian proyek angkutan batubara yang bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) yaitu pembukaan jalur kereta api baru yang terdiri dari Tanjung Enim ke Perajin berkapasitas 10 juta ton per tahun, pengembangan fasilitas muat tongkang Dermaga Kramasan dengan berkapasitas 5 juta ton per tahun, dan Tanjung Enim ke Srengsem (Lampung) dengan kapasitas 20 juta ton per tahun. 

Kerja sama juga dilakukan untuk peningkatan kapasitas jalur kereta yang sudah ada meliputi jalur Tanjung Enim-Pelabuhan Tarahan sebesar 25 juta ton per tahun dan Tanjung Enim-Kertapati berkapasitas 5 juta ton per tahun. Bukit Asam juga bekerja sama dengan PT Pupuk Sriwijaya melakukan proyek gasifikasi batu bara dalam upaya memanfaatkan batubara lignite sebesar 1,5 juta ton per tahun dan pabrik berkapasitas 2.600 ton per day urea di Banko Tengah blok A.

Artikel Terkait
Laba bersih PT Bukit Asam (Persero) Tbk hingga kuartal III 2017 naik dari Rp 1,05 Triliun menjadi Rp 2,63 Triliun.
"Saya jamin tidak (pinggirkan swasta), kalau di PUPR," kata Basuki
Pendekatannya bukan cost ditambah margin lagi, tapi harga batu bara yang Domestic Market Obligation itu dibedakan dengan harga batu bara yang ekspor.