Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menilai kenaikan cukai rokok dapat menurunkan daya beli masyarakat.
Rokok
Rokok Donang Wahyu|KATADATA

Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menolak potensi kenaikan tarif cukai rokok yang mencapai 8,9%. Ketua Umum AMTI Budidoyo menyatakan, target penyerapan cukai rokok justru tidak akan terpenuhi jika ada kenaikan tarif.

"Kami menyampaikan (kepada Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat), dengan pertimbangan penurunan konsumsi, kami mohon cukai rokok tidak naik," kata Budidoyo di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (13/9).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menurut data AMTI, industri rokok telah mengalami penurunan produksi selama beberapa tahun terakhir. Tercatat, pada 2016, volume produksi mencapai 348 miliar batang, 2015 sebanyak 348 miliar batang. Hitungan terbaru, hingga Juli 2017, terjadi penurunan 8 miliar batang dibanding tahun lalu.

(Baca juga:  Pelaku Usaha Resah dengan Larangan dan Pembatasan Bahan Baku Impor)

Budidoyo menjelaskan, beban pajak sudah mencapai 60% harga rokok jika cukai rokok dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hasil tembakau dimasukkan. Sementara tahun ini, cukai untuk rokok sudah mencapai 10,45%.

Menurut dia, kenaikan cukai rokok adalah hak pemerintah. Namun, Budidoyo meenilai hal itu bakal berpengaruh pada konsumsi masyarakat, hingga penurunan daya beli secara keseluruhan.

Jika hal itu terjadi, bukan tak mungkin pemerintah turut dirugikan karena tak terpenuhinya target penerimaan negara. "Tahun kemarin, target penyerapan cukai yang tercapai hanya 97%," ujarnya.

(Baca: Permudah Impor, Pemerintah Pangkas Barang Lartas, Buat Tim Keluh Kesah)

Selain menyampaikan penolakan kenaikan cukai rokok, AMTI juga meminta pemerintah untuk fokus kepada pemberantasan rokok ilegal. Dukungan pemerintah terhadap industri yang bersifat resmi akan membuat situasi menjadi lebih kondusif.

Sebelumnya, pemerintah menargetkan penerimaan dari cukai sebesar Rp 155,4 triliun pada 2018, meningkat dari tahun ini yang sebesar Rp 153,2 triliun. Target tersebut dipatok dengan memperhitungkan kenaikan tarif cukai rokok.

Direktur Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi mengatakan, secara umum tarif cukai rokok memang selalu disesuaikan dengan pertumbuhan ekonomi dan inflasi setiap tahun. Artinya, jika pertumbuhan ekonomi dipatok 5,4% dan inflasi 3,5% tahun depan maka potensi kenaikan tarif cukai rokok mencapai 8,9%.

Meski begitu, ia menekankan, besaran kenaikan tarif cukai rokok masih akan dibicarakan oleh pemerintah. "Belum diputuskan," kata Heru.

 (Baca: Genjot Ekonomi, Pemerintah Tarik Investasi Lewat Paket Kebijakan Baru

Michael Reily
Artikel Terkait
Pemerintah didorong memperbanyak wirausaha baru dan melakukan reformasi ketenagakerjaan.
“Kalau dilihat, prioritas mungkin plastik dan minuman berpemanis karena ini yang mudah," kata Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Marizi Z. Sihotang.
Lebih baik cek saja, adakan satu research, sehingga akan didapatkan faktanya apa," ujar Hariyadi