"Kalau saya dikasih kesempatan sampai 2019, yakin 3.000 MW bisa jalan," kata Jonan.
Pembangkit Listrik
Arief Kamaludin|KATADATA

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jonan menilai investor di sektor energi baru terbarukan terus bermunculan. Bahkan ada beberapa investor dari luar negeri yang ingin menanamkan modalnya untuk membangun pembangkit berbasis energi baru terbarukan.

Salah satu contohnya adalah investor asal Belanda yang berencana membangun pembangkit listrik tenaga arus laut di Selat Larang Hutan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Adapun pembangkit tersebut berkapasitas 20 MW dengan rata-rata kecepatan arus laut sebesar 4-5 meter per detik.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca: PLN Beli Listrik 291 MW dari Pembangkit Energi Baru Terbarukan)

Rencana itu disampaikan saat Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama investor tersebut menemui Jonan bulan lalu. Saat itu, investor Belanda itu menawarkan harga listrik sebesar US$ 16 sen per kiloWatthour (kWh) kepada PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN). Namun, harga tersebut dianggap terlalu mahal. Alhasil negosiasi sempat tertunda.

Kemudian, Selasa (12/9) lalu, Gubernur NTT itu kembali mendatangi Jonan dan menawarkan harga yang lebih murah yakni US$ 7,18 sen per kWh. "Kalau harganya sudah US$ 7,18 sen per kWh, saya yakin PLN mau," ujar Jonan di acara pembukaan The 6th Indo EBTKE Conex 2017, di Jakarta, Rabu (13/9).

Selain itu dalam waktu 10 bulan terakhir juga sudah ada penandatangan kontrak jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) antara PLN dengan produsen listrik swasta (Independent Power Producer/IPP). Totalnya telah mencapai 700 MW.

Atas dasar itu, Jonan yakin capaian energi baru terbarukan itu berpeluang meningkat. "Kalau saya dikasih kesempatan sampai 2019, saya yakin 3.000 MW bisa jalan," kata Jonan.

Capaian itu penting untuk mengejar target bauran energi terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025. Hingga kini bauran energi dari EBT sudah mencapai 12%.

Untuk menggenjot target tersebut, menurut Jonan, Presiden Joko Widodo mendorong pembangkit listrik berbasis panas bumi dan air. Alasannya potensi keduanya masih sangat besar. Untuk pembangkit panas bumi yang sudah beroperasi saat ini sebesar 300 MW.

(Baca: Indonesia Bisa Jadi Penghasil Panas Bumi Terbesar di Dunia)

Selain dari sektor kelistrikan, Jonan juga mendorong EBT dengan program mobil listrik. Saat ini pihaknya masih menggodok payung hukum dan insentif fiskal yang akan diberikan pemerintah dalam mengembangkan mobil listrik. Apalagi presiden mendorong mobil listrik bisa diimplementasikan cepat.

Artikel Terkait
Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah menyepakati subsidi energi pada RAPBN 2018 sebesar Rp 94,55 triliun.
Secara kumulatif, sejak Januari sampai Agustus, penjualan listrik mencapai 146,37 Twh. Sedangkan target PLN, selama delapan bulan itu 152,11 Twh.
Ego mengatakan pemerintah akan memutuskan nasib Blok East Kalimantan setelah menerima surat resmi dari Pertamina.