Nadiem Sebut Kompetensi Sarjana di Dunia Kerja Masih Minim

Universitas diminta untuk memperpanjang masa magang agar mahasiswa memiliki pengalaman sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja.
Image title
Oleh Tri Kurnia Yunianto
3 Juli 2020, 14:50
Ilustrasi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim. Nadiem menyebut kompetensi dan produktivitas sarjana Indonesia di dunia kerja masih sangat minim karena kurangnya masa magang saat kuliah.
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Ilustrasi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim. Nadiem menyebut kompetensi dan produktivitas sarjana Indonesia di dunia kerja masih sangat minim karena kurangnya masa magang saat kuliah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengatakan, kompetensi dan produktivitas sarjana di duni kerja masih sangat minim. Hal tersebut menyebabkan tenaga kerja berpendidikan tinggi sulit terserap perusahaan-perusahaan besar, baik yang berskala nasional maupun internasional.

Ia mengatakan, minimnya kualitas sarjana disebabkan karena pengalaman magang yang kurang saat kuliah. Seharusnya, magang dilakukan dalam jangka waktu enam bulan agar pengalaman kerja semakin luas.

"Anak-anak lulusan terbaik Indonesia pintar-pintar, tapi sulit menjadi produktif di dunia kerja. Mereka memerlukan masa orientasi satu hingga dua tahun, karena soft skill mereka belum kuat," kata Nadiem dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat (3/7).

Berbagai kendala yang dialami lulusan baru di dunia kerja antara lain, kurangnya pengetahuan tentang mekanisme rapat yang efektif.

Kemudian, sarjana baru dinilai kurang menguasai metode pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas kerja. Oleh karena itu, ia meminta seluruh kampus memperpanjang masa magang mahasiswanya.

Tak hanya itu, metode pembelajaran di universitas pun perlu diubah menjadi metode pembelajaran berbasis proyek, yang difasilitasi oleh dosen dan pihak ketiga sebagai pihak yang akan mengevaluasi hasil proyek yang digagas mahasiswa.

(Baca: Guru Honorer Bisa Dapat Gaji dari Dana BOS, Ini Syaratnya)

Upaya ini bertujuan agar seluruh lulusan baru tidak terkejut saat memasuki dunia kerja, sehingga dapat beradaptasi dengan cepat.

"Ujungnya metode pendidikan kita, seperti yang saya impikan, yakni ada keaktifan mahasiswa saat proses pembelajaran," ujarnya.

Minimnya kompetensi yang dimiliki lulusan sarjana Indonesia, membuat sebagian besar lulusan baru memilih berebutan untuk mejadi pegawai negeri sipil (PNS). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah PNS pada 2018 mencapai 4,2 juta jiwa.  Angka tersebut turun 2,5% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,3 juta jiwa.

Komposisi PNS terbesar terdapat pada jenjang pendidikan tingkat sarjana/doktor/PhD, yakni 2,7 juta jiwa atau 63,4% dari total PNS 2018. Diikuti jenjang pendidikan SMA atau sederajat, yang mencapai 848.000 jiwa, dengan komposisi 538.000 laki-laki dan 310.000 perempuan.

Angka tertinggi selanjutnya terdapat pada jenjang diploma III/Akta III/sarjana muda sebanyak 388.400 ribu. Lulusan diploma I, II/Akta I, II sebanyak 209.400 jiwa. Sementara, jumlah terkecil terdapat pada jenjang pendidikan SD, yakni 29.500 ribu jiwa dan SMP/sederajat sebanyak 53.000 jiwa.

(Baca: Aturan SKB Pendidikan Dinilai Tak Sentuh Ketentuan Belajar dari Rumah)

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Video Pilihan

Artikel Terkait