SKK Migas Pastikan Tumpahan Minyak Pulau Pari Bukan dari Pertamina

Pertamina Hulu energi (PHE) telah mengambil sampel untuk mengecek asal tumpahan minyak serta menerjunkan tim untuk membantu pembersihan Pulau Pari.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
12 Agustus 2020, 18:40
Ilustrasi, tumpahan minyak. SKK Migas memastikan bahwa tumpahan minyak yang mencemari Pulau Pari di Kepulauan Seribu bukan berasal dari fasilitas Pertamina.
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, tumpahan minyak. SKK Migas memastikan bahwa tumpahan minyak yang mencemari Pulau Pari di Kepulauan Seribu bukan berasal dari fasilitas Pertamina.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memastikan tumpahan minyak yang mencemari Pulau Pari, Kepulauan Seribu bukan berasal dari fasilitas milik PT Pertamina. Saat ini, investigasi terhadap sumber tumpahan minyak ini akan terus dilakukan.

Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno mengatakan pihaknya telah meminta konfirmasi terkait tumpahan minyak tersebut kepada Pertamina. Namun, perusahaan pelat merah tersebut memastikan bahwa tumpahan minyak bukan berasal dari lapangan migas yang dikelolanya.

"Mungkin kapal-kapal yang lewat perairan tersebut membuang muatan sampahnya atau membersihkan deck, yang membuat kotoran bekas minyak tumpah ke laut," kata Julius kepada Katadata.co.id, Rabu (12/8).

Senada, VP Relations Pertamina Hulu Energi (PHE) Ifki Sukarya menyampaikan berdasarkan catatan operasional, PHE OSES dan PHE ONWJ telah melakukan pengecekan di lapangan. Namun hingga kini pihaknya belum mengetahui secara pasti darimana tumpahan minyak tersebut berasal.

“Kami pastikan mengerahkan seluruh anak perusahaan yaitu PHE OSES dan PHE ONWJ melakukan pengecekan di lapangan," ujar dia.

Selain mengecek langsung, tim lapangan juga berdasarkan permintaan Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Kabupaten Kepulauan Seribu telah mengambil sampel ceceran untuk kemudian dilakukan finger print test untuk mengecek asal tumpahan minyak.

Selain itu, PHE OSES juga terlibat dalam kegiatan pembersihan, yang terbagi dalam tiga wilayah baik bagian tengah, barat dan timur. Pembersihan tumpahan minyak ini diperkirakan akan selesai sekitar tiga hari dengan melakukan penyisiran Pulau Pari dan Pulau Lancang.

PHE juga memastikan bahwa sumber tumpahan minyak bukan berasal dari Sumur YYA-1 yang tahun lalu pernah bocor. Ifki mengatakan sampai saat ini sumur YYA-1 dalam kondisi aman.

"Sumur YYA -1 sudah ditutup sejak September 2019, dan Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah menutup Status Darurat Penanggulangan Tumpahan Minyak Anjungan YYA -1 PHE ONWJ Juli 2020, sehingga kami pastikan sudah aman," kata Ifki.

Menurut Ifki PHE dalam operasinya senantiasa patuh pada aspek HSSE dan lindung lingkungan. Sehingga dampak yang terjadi di lingkungan wilayah operasi menjadi perhatian perusahaan.

Terkait insiden ini PHE menyatakan 10 orang tim dari PHE OSES bersama 22 orang dari Sudin LH dan 10 petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) telah berada di lapangan. Keberadaan tim ini untuk mendukung upaya pembersihan ceceran minyak di Pulau Pari, dengan berkoordinasi dengan KSOP Kepulauan Seribu.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Video Pilihan

Artikel Terkait