Kasus Covid-19 Melonjak Lagi, Thailand Naikkan Batas Maksimal Utang

Posisi utang pemerintah Thailand pada akhir Juli lalu mencapai 8,9 triliun bath setara Rp 3.791 triliun atau 55,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Image title
21 September 2021, 12:28
utang, utang pemerintah, thailand,kasus covid-19
ANTARA FOTO/REUTERS/Chalinee Thirasupa/hp/cf
Thailand memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya mencapai 1,3%

Pemerintah Thailand memutuskan untuk menaikkan pagu utang dari saat ini maksimal 60% terhadap PDB menjadi 70% terhadap PDB. Langkah ini untuk membantu pemerintah menarik lebih banyak utang di tengah gelombang Covid-19 yang masih berdampak pada perekonomian Negeri Gajah itu. 

Keputusan ini diambil setelah pertemuan oleh Komite Kebijakan Fiskal dan Moneter Negara pada Senin (21/9). Pertemuan dihadiri langsung Menteri Keuangan Thailand Arkhom Termpittayapaisith dan Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha.

"Kenaikan pagu utang untuk meningkatkan ruang fiskal bagi pemerintah dan untuk memastikan tidak ada halangan jika pemerintah perlu meminjam uang untuk melaksanakan kebijakan fiskal dalam jangka menengah, juga sambil mempertahankan kemampuan pembayaran utang yang baik,” kata Arkhom Termpittayapaisith dalam keterangan tertulisnya seperti dikutip dari Bangkok Post, Senin (21/9).

Posisi utang pemerintah Thailand pada akhir Juli lalu mencapai 8,9 triliun bath setara Rp 3.791 triliun atau 55,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlah tersebut diperkirakan akan kembali membengkak menjadi 58,9% terhadap PDB pada akhir bulan ini.

Pemerintah Thailand dalam satu dekade terakhir terus menahan kenaikan plafon utang dengan alasan untuk menjaga reputasi disiplin fiskal. Namun, hantaman pandemi memaksa pemerintah terus menarik utang, bahkan rasionya diperkirakan akan terus meningkat menjadi 63,8% pada akhir 2022 berdasarkan laporan penelitian yang dibuat Kasikornbank Plc pekan lalu.

Perdana Menteri Prayut terus didesak untuk menambah utang pemerintah hingga 1,5 triliun bath untuk tahun ini. Dana ini akan digunakan  untuk mengakselerasi penanganan pandemi dan membantu perekonomi Thailand yang sangat bergantung pada sektor pariwisata.

Sementara itu, Pemerintah Thailand  diperkirakan akan menambah utang baru 2,3 triliun bath untuk membiayai defisit anggaran tahun depan, memenuhi pembiayan penanganan Covid-19 serta pembayaran bunga utang.

Kementerian Keuangan Thailand memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya mencapai 1,3%. Sementara dalam riset yang dibuat Bloomberg, pertumbuhan PDB Thailand dikoreksi dari proyeksi semula 2,4% menjadi 1,2%. Kendati demikian, capaian ini jauh lebih baik dari kontraksi 6,1% tahun lalu.

Mengutip data Worldometer, kasus positif Covid-19 harian di Thailand pada Senin (20/9) mencapai 12.709 kasus positif baru dengan kasus aktif 132.572 orang, sementara total kumulatif sejak awal pandemi sudah menyentuh 1.489.186 kasus.

Thailand sudah mulai menghadapi lonjakan penularan sejak awal April lalu sebelum varian Delta merebak pada Juli dan Agustus. Kasus baru harian tembuh di atas 1.000 per hari untuk pertama kalinya pada 14 April, hingga rekor tertinggi 9.635 kasus baru per hari pada 17 Mei. Setelahnya penyebaran mulai turun, namun tidak pernah turun di bawah 2.000 kasus per hari.

Kemudian kasus harian naik lagi di pertengahan Juni, hingga puncaknya 23.418 kasus baru dalam sehari pada 13 Agustus lalu. Setelah itu laporan psotif harian mulai berkurang, namun belum pernah turun di bawah 10.000 per hari.

Sementara berdasarkan Our World in Data, tingkat vaksinasi di Thailand mulai menunjukkan akselerasi setelah sebelumnya terus disoroti karena lebih lambat dibanding negara ASEAN lainnya. Hingga 19 September, terdapat 28,8 juta penduduk yang sudah mendapat vaksin dosis pertama atau 41,5% dari total populasi. Sementara penduduk yang sudah mendapat vaksinasi lengkap atau dua dosis sudah 14,9 juta orang atau 21,5% dari populasi.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait