Pemerintah Tarik Pinjaman dari ADB Rp 22,5 Triliun

Pemerintah menargetkan dapat mengumpulkan pinjaman multilateral US$ 7 miliar atau Rp 105 triliun untuk membiayai APBN 2020.
Agatha Olivia Victoria
8 Mei 2020, 14:59
utang, pinjaman, pinjaman ADB, utang pemerintah, pandemi corona, virus corona
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Pemerintah akan menarik utang dari ADB sebesar Rp 22,5 triliun untuk menangani dampak pandemi corona.

Pemerintah akan kembali mendapatkan pinjaman  dari Asian Development Bank sebesar US$ 1,5 miliar atau setara Rp 22,5 triliun. Pinjaman ini menggunakan skema khusus guna membantu pemulihan ekonomi akibat pandemi corona melalui APBN.

"Misalnya dengan ADB menggunakan skema khusus countercylical. Kita bisa dapatkan US$ 1,5 miliar," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Luky Alfirman dalam konferensi video di Jakarta, Jumat (8/5).

Luky mengharapkan pinjaman tersebut dapat cair pada bulan ini atau bulan depan. Dengan demikian, uang tersebut bisa menutupi kemampuan pembiayaan negara.

Ia melanjutkan, pemerintah menargetkan dapat mengumpulkan pinjaman multilateral sebesar US$ 7 miliar atau setara Rp 105 triliun. Pinjaman tersebut berujuan untuk menutupi defisit APBN 2020 yang diperkirakan melebar hingga 5,07% dari Produk Domestik Bruto.

Advertisement

(Baca: Kemenkeu dan BUMN Cari Solusi Utang Garuda Jatuh Tempo US$ 500 Juta)

Meski demikian, Luky menjelaskan bahwa target pinjaman tersebut belum sepenuhnya disetujui oleh berbagai lembaga multilateral. "Pinjaman butuh negoisasi, mereka harus ada approval. Kita masih workout," ucap dia.

Lembaga multilateral tersebut sambung ia, seperti Bank Dunia, Bank Pembiayaan Infrastruktur Asia (Asian Infrastructure Investment Bank/AIIB), Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB), dan Japan International Cooperation Agency (JICA).

Luky menambahkan, pinjaman yang sedang diupayakan dari berbagai lembaga multilateral ini bersifat pinjaman program untuk bantuan pembiayaan, bukan pinjaman proyek. "Karena dengan adanya phyisical distancing, pinjaman proyek tidak bisa dieksekusi," ujarnya.

(Baca: BI Catat Modal Asing Kembali Kabur dari RI Rp 6,95 T dalam Tiga Hari)

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan bahwa ISDB bakal menggelontorkan dana untuk penanganan pandemi virus corona. Bantuan ini akan diberikan IsDB kepada negara-negara anggotanya.

"Dana emergency Covid-19 dari IsDB dalam proses negosiasi antara US$ 200 juta -250 juta," tulis Sri Mulyani usai mengadakan konferensi video dengan IsDB dalam akun instagram resminya, seperti dikutip Katadata.co.id, Senin (27/4).

Sri Mulyani menjelaskan, dukungan IsDB tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Bank Dunia dan AIIB. Dalam menggelontorkan bantuan tersebut, IsDB akan meluncurkan program 3R (Respons, Restore, Restart).

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait