Jokowi: Ekonomi RI Diproyeksi Pulih Paling Cepat Setelah Tiongkok

Presiden Joko Widodo menyebut banyak lembaga memproyeksi Indonesia masuk kelompok negara dengan pemulihan ekonomi paling cepat setelah Tiongkok pada 2021.
Dimas Jarot Bayu
28 Juli 2020, 10:56
Jokowi, Indonesia, pemulihan ekonomi, pandemi corona
ANTARA FOTO/Biro Pers - Lukas/hma/hp.
Presiden Joko Widodo meminta jajarannya tetap waspada terhadap ketidakpastian global dan potensi gelombang kedua Corona.

Sejumlah lembaga dunia memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh di antara 4,2% hingga 5,4% pada tahun depan. Presiden Joko Widodo menyebut ekonomi Indonesia berpotensi masuk ke dalam kelompok-kelompok negara dengan pemulihan ekonomi paling cepat setelah Tiongkok

Jokowi merujuk ramalan yang dikeluarkan dana moneter internasional, bank duni, dan organisasi untuk kerja sama ekonomi dan pembangunan. IMF memproyeksi ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5,4%, sedangkan bank dunia sebesar 4,3%, dan OECD sebesar 4,2%. 

"Saya kira kalau perkiraan ini betul, kita akan berada pada posisi ekonomi yang juga mestinya itu di atas pertumbuhan ekonomi dunia," kata Jokowi saat membuka rapat terbatas melalui konferensi video, Selasa (28/7).

Meski menilai Indonesia akan masuk kelompok negara yang cepat pulih, Jokowi tetap meminta jajarannya tetap waspada. Situasi ekonomi global saat ini masih dinamis dan penuh ketidakpastian. Tak hanya itu, Indonesia juga dihadapkan ancaman gelombang kedua dari pandemi virus corona Covid-19.

"Kita tetap harus waspada kemungkinan dan antisipasi kita terhadap risiko terjadinya gelombang kedua," kata Jokowi.

 Kepala Negara menekankan, indikator ekonomi makro Indonesia pada 2021 bisa dikalkulasi dengan cermat dan hati-hati. Indikator ekonomi makro Indonesia pada tahun depan harus optimistis, namun juga realistis dengan mempertimbangkan kondisi dan proyeksi terkini.

Dia juga ingin jajarannya bisa memastikan prioritas APBN dan pelebaran defisit pada 2021 untuk pembiayaan percepatan pemulihan ekonomi dan penguatan transformasi di berbagai sektor. "Terutama reformasi di bidang kesehatan, reformasi pangan, energi, pendidikan, dan juga percepatan transformasi digital," kata dia.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga meminta jajarannya bisa menjadikan belanja pemerintah sebagai instrumen utama mengungkit ekonomi Indonesia ketika krisis. Pasalnya, Jokowi menilai APBN baru berkontribusi sekitar 14,5% dari PDB.

"Juga agar sektor swasta dan UMKM bisa pulih kembali, mesin penggerak ekonomi ini harus diungkit dari APBN kita yang terarah, yang tepat sasaran," katanya.

 Pemerintah dan Komisi XI DPR RI sebelumnya menyepakati besaran asumsi dasar ekonomi makro dan target pembangunan dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal Rancangan APBN 2021. Pertumbuhan ekonomi dipatok antara 4,5 hingga 5,5%, sedangkan nilai tukar rupiah Rp 13.700 hingga Rp 14.900 per dolar AS.

Selain pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar rupiah, pemerintah dan DPR mematok tingkat inflasi di antara 2%-4% dan suku bunga SBN 10 tahun 6,29%-8,29%. Sementara tingkat pengangguran terbuka di tetapkan antara 7,7% hingga 9,1%, kemiskinan 9,2%-9,7%, indeks gini rasio yakni 0,377-0,379, dan indeks pembangunan manusia 72.78-72.95. 

Asumsi-asumsi makro ini akan digunakan untuk menyusun nota keuangan RAPBN 2021 yang akan dibacakan Presiden Joko Widodo menjelang Hari Kemerdekaan. 

Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait