Pemerintah Tambah Utang Valas Rp 58 T, Imbal Hasilnya Rekor Terendah

Pemerintah menerbitkan surat utang global sebesar US$ 3 miliar dan 1 miliar euro atau setara Rp 58 triliun.
Agatha Olivia Victoria
7 Januari 2021, 10:44
utang global, surat utang, pemerintah tarik utang
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa.
Ilustrasi. Pemerintah mengklaim imbal hasil dari penerbitan surat utang global awal tahun ini merupakan yang terendah sepanjang sejarah.

Di awal tahun ini, pemerintah kembali menumpuk utang baru. Caranya melalui penerbitan surat utang global dalam dua jenis mata uang, yaitu US$ 3 miliar dan 1 miliar euro atau totalnya setara Rp 58,83 triliun mengacu kurs penutupan kemarin (5/1)Penerbitan surat utang global ini diklaim memperoleh imbal hasil atau yield  terendah sepanjang sejarah.

Berdasarkan keterangan resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan yang diterima Katadata.co.id pada Rabu (5/1), obligasi berdenominasi dolar AS terdiri dari tiga seri senilai senilai US$ 3 miliar. Sementara, obligasi berdenominasi euro terdiri dari satu seri senilai 1 miliar euro.

Pricing date untuk keempat seri obligasi global ini adalah 5 Januari 2021 dengan tanggal setelmen 12 Januari 2021. Keempat seri SUN global tersebut yaitu RI0331, RI0351, RI0371, dan RIEUR0333.

RI0331 memiliki tenor 10 tahun yang akan jatuh tempo pada 12 Maret 2031. Nominal yang diterbitkan yaitu US$ 1,25 miliar dengan yield 1,9%. Kemudian, RI0351 akan jatuh tempo pada 12 Maret 2051 atau mempunyai tenor 30 tahun. Nilai emisi seri itu tercatat US$ 1,25 miliar sementara imbal hasilnya tercatat 3,1%.

Seri RI0371 memiliki tenor 50 tahun sehingga akan jatuh tempo pada 12 Maret 2071. Nominal yang diterbitkan US$ 500 juta dengan yield 3,4%. Terakhir, RIEUR0333 memiliki tenor 12 tahun dan jatuh tempo pada 12 Maret 2033. Nilai emisi seri yang diterbitkan dengan denominasi euro tersebut tercatat 1 miliar dengan yield 1,174%.

Pada surat utang dengan denominasi dolar AS, initial price guidance berada pada area 2,35% untuk tenor 10 tahun, area 3,55% untuk tenor 30 tahun, dan area 3,85% untuk tenor 50 tahun. Transaksi kali ini juga mencatatkan tenor terpanjang untuk SUN denominasi euro yang pernah diterbitkan oleh pemerintah.

Keseluruhan transaksi mendapatkan harga yang kompetitif, dengan final pricing yang berada pada level yang paling ketat untuk semua seri dan mencapai negative new issue premium yang signifikan. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap credit story Indonesia dan optimisme atas pemulihan ekonomi Indonesia.

Keempat seri SUN yang diterbitkan pada transaksi kali ini diperkirakan akan memperoleh peringkat Baa2 dari Moody’s, BBB dari Standard & Poor’s, dan BBB dari Fitch* serta akan dicatatkan pada Singapore Stock Exchange dan Frankfurt Stock Exchange. Joint Bookrunners dalam transaksi ini adalah Citigroup, DBS Bank Ltd., Deutsche Bank, Mandiri Securities and Standard Chartered Bank, sedangkan yang bertindak sebagai co-Managers adalah PT BRI Danareksa Sekuritas and PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk.

Analis Obligasi Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menuturkan pemerintah memanfaatkan momentum yang tepat dalam menerbitkan obligasi global pada awal tahun. "Window opportunity saat ini rasanya cukup pas," kata Handy kepada Katadata.co.id, Kamis (7/1).

Apalagi, mengingat yield SUN global yang diterbitkan pemerintah saat ini terendah sepanjang sejarah. Hal itu bisa dimanfaatkan mengingat imbal hasil UST 10 Year treasury agak naik akibat skenario blue wave di Negeri Paman Sam.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
Video Pilihan

Artikel Terkait