Harga Cabai & Bawang Turun Saat Ramadan, Inflasi April 0,13%

Agatha Olivia Victoria
3 Mei 2021, 11:42
inflasi, ramadan, BPS, ramadan, lebaran
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp.
Ilustrasi. Sejumlah komoditas pangan justru menyumbangkan deflasi atau mengalami penurunan harga pada April 2021.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi pada April 2021 mencapai 0,13%, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu yang tercatat masing-masing 0,08%. Inflasi ini juga lebih tinggi dibandingkan Mei 2020 yang hanya mencapai 0,07% meski ada bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri di pekan ketiga bulan tersebut. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto menjelaskan, inflasi tahun kalender mencapai 0,58%, sedangkan inflasi secara tahunan atau year on year pada bulan lalu mencapai 1,42%. "Komoditas yang menyumbang adalah daging ayam ras dengan andil 0,06%. Lalu minyak goreng, jeruk, bahan bakar rumah tangga, emas perhiasan, dan rokok kretek filter," ujar setianto dalam Konferensi Pers Inflasi April, Senin (3/5). 

Di sisi lain, menurut dia, sejumlah komoditas pangan justru menyumbangkan deflasi atau mengalami penurunan harga. Cabai rawit memberikan andil 0,05%, cabai merah dan bawang merah 0,02%, sedangkan beras, bayam, dan kangkung memberikan andil 0,01%.

"Dari 92 kota indeks harga konsumen, 72 kota mengalami inflasi dan 18 kota mengalami deflasi," kataya. 

Inflasi tertinggi terjadi di Kotamobagu mencapai 1,31% akibat kenaikan harga ikan cakalang dan cabai rawit, sedangkan inflasi terendah terjadi di yogyakarta 0,01%. Sementara itu, deflasi tertinggi terjadi di Jayapura 1,26%, sedangkan terendah di Tanjung Pandan 0,02%. 

Dari 11 kelompok pengeluaran, lima kelompok tak memberian andil inflasi, yakni kesehatan, transportasi, informasi komunikasi dan jasa keuangan, rekreasi olaraga dan budaya, serta pendidikan. Sementara itu, kelompok lainnya seperti makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil 0,05% dengan inflasi 0,02%.

Sementara berdasarkan komponennya, inflasi inti tercatat 0,14% dengan andil 0,09%. Inflasi harga yang bergejolak mencatatkan inflasi 0,15% , sedangkan harga yang diatur 0,11%. Keduanya memberikan andil inflasi 0,02%. 

"Perkembangan inflasi inti di April secara bulanan sudah lebih baik 0,14%. Ini lebih tinggi dari maret 2021 yang deflasi 0,03% dan lebih rendah dibanding dengan inflasi inti tahun 2020, baik Maret atau April," katanya. 

Survei pemantauan harga Bank Indonesia pada minggu kelima April 2021 sebelumnya memperkirakan, inflasi akan berada di level 0,18% seiring perkembangan harga. Dengan demikian, inflasi bulan lalu secara tahun kalender sebesar 0,63% dan secara tahunan 1,47%.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menyebutkan, penyumbang utama inflasi April 2021 hingga dengan minggu kelima yaitu komoditas daging ayam ras, jeruk, minyak goreng, daging sapi, dan emas perhiasan. "Sementara itu, beberapa komoditas mengalami deflasi, antara lain cabai rawit, bawang merah, kangkung, bayam, beras dan tomat," kata Erwin dalam keterangan resminya, Jumat (30/4).

BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu. Langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan juga akan terus dicermati, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait