Modal Asing Kabur Rp 1,48 T, Rupiah Jatuh 177 Poin dalam Sepekan

Agatha Olivia Victoria
21 Mei 2021, 18:07
rupiah, aliran modal asing, investasi
Adi Maulana Ibrahim |Katadata
Dana asing kabur dari pasar surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 890 miliar dan pasar saham Rp 590 miliar pada 17-20 Mei 2021.

Nilai tukar rupiah pekan ini ditutup di level Rp 14.355 per dolar AS, melemah 1,09% atau 177 poin dibandingkan penutupan pekan lalu sebelum libur Lebarann. Melemahnya rupiah antara lain disebabkan oleh aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik mencapai Rp 1,48 triliun. 

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, dana asing kabur dari pasar surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 890 miliar dan pasar saham Rp 590 miliar pada 17-20 Mei 2021. "Sehingga secara keseluruhan tahun ini tercatat nett outflow Rp 13,23 triliun," ujar Erwin dalam keterangan resminya, Jakarta, Jumat (21/5).

Bank sentral  juga melaporkan bahwa imbal hasil atau yield SBN RI 10 tahun turun ke level 6,46% pagi ini, dari 6,49% pada penutupan perdagangan kemarin. Sementara yield obligasi AS 10 tahun turun ke level 1,625%.

Sementara itu, premi risiko investasi atau credit default swap (CDS) Indonesia lima tahun naik dari 76,11 basis poin pada 14 Mei 2021 menjadi 77,45 bps per 20 Mei 2021. Semakin tinggi CDS, maka makin besar pula persepsi risiko investasi suatu negara.

Dalam satu pekan ini, rupiah  terus dihantui sentimen negatif. Mengawali pekan, rupiah dibayangi penerapan lockdown di berbagai negara. Sentimen negatif berlanjut dengan kekhawatiran lonjakan Covid-19 di dalam negeri usai Lebaran hingga kebijakan Bank Sentral AS, The Federal Reserve. 

Hasil notulensi rapat Fed kemarin menunjukkan beberapa pembuat kebijakan membuka kemungkinan untuk membahas pengurangan pembelian obligasi pada pertemuan mendatang. Akibat dari rilis notulen itu, Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menyebutkan bahwa dolar AS langsung menguat terhadap mata uang utama dan negara berkembang di tengah sentimen risk-off, yang membuat indeks saham utama AS merosot.

Imbasnya, menurut dia, sebagian besar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, diperdagangkan melemah. Namun, hal tersebut memang sudah terjadi sejak kekhawatiran kenaikan kasus Covid-19 secara global. "Perkembangan itu memicu kekhawatiran tentang pemulihan ekonomi," ujar Josua kepada Katadata.co.id, Kamis (20/5).

Worldometers melaporkan, kasus positif Covid-19 global bertambah 50.828 per 16.48 WIB menjadi 165,89 juta. Angka kematian tercatat 3,45 juta dan kesembuhan 146,59 juta.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra pada awal pekan ini mengatakan, lonjakan kasus corona di beberapa negara membuat lockdown kembali diterapkan sehingga memicu penguatan dolar AS. "Kekhawatiran pasar terhadap penurunan ekonomi global mendorong pasar memegang mata uang Negeri Paman Sam sebagai aset aman," ujar Ariston kepada Katadata.co.id.

Salah satu negara yang kembali menerapkan lockdown baru-baru ini yakni Singapura. Negeri Merlion memberlakukan penguncian mulai Minggu (16/5) seperti yang pernah diberlakukan setahun lalu. Pemerintah melarang makan di dalam ruangan dan membatasi pertemuan hanya maksimal dua orang lantaran peningkatan jumlah infeksi virus yang sulit dilacak.

Turki juga sudah melakukan lockdown perdana pada awal bulan ini. Sekolah terpaksa tutup dan banyak bisnis mengalami nasib serupa.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait