Modal Asing Masuk Rp 8 T dalam Sepekan, Banjir Dana di Pasar Modal

BI mencatat, modal asing masuk Rp 9,96 triliun di pasar saham, tetapi keluar Rp 1,27 triliun di pasar SBN.
Image title
8 Oktober 2021, 18:29
modal asing, aliran modal asing, dolar AS
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Nilai tukar rupiah berhasil ditutup ke level Rp 14.223 per dolar AS sore ini seiring masuknya modal asing dalam sepekan.

Investor asing mulai kembali masuk ke pasar keuangan domestik setelah beberapa pekan terakhir terus melakukan aksi jual.  Bank Indonesia melaporkan, aliran modal asing masuk Rp 8,69 triliun sepekan ini di tengah wacana tapering off  The Federal Reserve yang masih cukup kuat.

Direktur Kepala Grup Departemen Komunikasi Muhamad Nur menyebut, asing mencatatkan beli neto Rp 9,96 triliun di pasar saham dan jual neto Rp 1,27 triliun di pasar SBN. "Berdasarkan data setelmen sejak awal tahun 2021, terdapat nonresiden jual neto Rp 5,78 triliun," tulis Nur dalam keterangan tertulisnya, Jumat (8/10).

Nur juga melaporkan, tingkat premi risiko investasi atau credit default swap (CDS) Indonesia lima tahun pada minggu pertama Oktober naik ke level 83,92 bps per 7 Oktober, dibandingkan 79,81 bps pada 1 Oktober. Kemudian imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun turun ke level 6,32% pada 8 Oktober, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke level 1,573% pada 7 Oktober.

Seiring kembali masuknya dana asing ke pasar keuangan domestik, nilai tukar rupiah berhasil ditutup ke level Rp 14.223 per dolar AS sore ini. Kurs garuda telah menguat 0,6% dari penutupan pekan lalu di level Rp 14.308. Penguatan terutama didorong membaiknya sentimen terhadap aset berisiko yang ditandai menghijaunya mayoritas indeks saham utama global.

Indeks saham utama AS terpantau menguat pada perdagangan sore ini. Indeks S&P 500 menguat 1,91% dalam sepekan terakhir, bersama Dow Jones 2,43% dan Nasdaq Composite 1,01%. Begitu juga indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,69% dalam sepekan bersama Indeks Dax Jerman sebesar 0,86%. Sementara di Asia, Hang Seng Hong Kong ditutup menguat 1,47%, sedangkan Shanghai Composite Cina melemah 0,93% dan Nikkei 225 Jepang terkoreksi 3,43%.

Di sisi lain, sentimen penguatan tampaknya turut dipengaruhi rilis data ekonomi domestik sejak akhir pekan lalu yang menunjukkan optimisme ekonomi dalam negeri. IHS Markit pada Jumat (1/10) melaporkan sektor manufaktur RI mulai menunjukkan pemulihan. Ini tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur periode September sebesar 52,2%, naik setelah berada di zona kontraksi dua bulan berturut-turut.

BI juga melaporkan cadangan devisa Indonesia semakin tebal. Posisi cadangan devisa RI hingga akhir September mencapai Rp 146,9 miliar, kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.  Cadangan devisa yang terus bertambah memberi kepastian dari sisi kemampuan domestik merespon munculnya berbagai gejolak eksternal, terutama terhadap rencana tapering The Fed.

Kendati demikian,  penguatan rupiah tampaknya tidak begitu signifikan di tengah masih berlanjutnya kekhawatiran pasar terhadap rencana tapering off bank sentral AS (The Fed). Pasar memperkirakan The Fed mengumumkan tapering off berupa pengurangan pembelian aset pada pertemuan FOMC bulan depan. Tapering diprediksi dimulai Desember dan akan berakhir pada akhir paruh kedua tahun depan.

Selain itu, pasar juga melihat The Fed akan mempercepat kenaikan suku bunga yang diprediksi mulai berlangsung pada kuartal ketiga tahun depan. Hal ini setelah separuh dari anggota komite FOMC memandang inflasi bisa bertahan lebih lama hingga tahun depan.

Kekhawatiran terhadap tapering ini juga tercermin dari yield obligasi pemerintah AS yang menunjukkan tren kenaikan sejak akhir bulan lalu. Berdasarkan pemantauan data di laman treausy.gov, Yield US Treasury berada di level 1,58% pada perdagangan Kamis (7/10). Ini merupakan level tertinggi sejak 16 Juni 2021 sebesar 1,57%.

Selain itu, krisis energi yang sedang melanda banyak negara dunia tampaknya turun menimbulkan kekhawatiran di pasar. Sebagian besar negara-negara di Eropa lebih dulu merasakan berkurangnya pasokan energi. Kondisi ini yang kemudian turut mendorong Inggris yang terkenal getol mengkampanyekan 'green energy' kini berbalik melirik PLTU batu bara.

Krisis energi kemudian juga mempengaruhi kenaikan harga-harga barang dan jasa di daratan Eropa. Inflasi zona euro pada September mencapai 3,4%. Ini merupakan level inflasi tertinggi sejak September 2008. Jerman sebagai perekonomian terbesar di kawasan tersebut bahkan harus menghadaoi inflasi tertinggi dalam 30 tahun yakni sebesar 4,1%.

Krisis energi belakangan meluas hingga ke Cina yang belum lama ini mengumumkan komitmennya beralih ke energi hijau. Korea Selatan dan India juga dilaporkan mulai turut bekerja keras menghadapi krisis ketersediaan energi khususnya batu bara.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait