Rupiah Loyo ke 14.249 per US$ Tertekan Kenaikan Penjualan Retail AS

Rupiah pagi ini bergerak melemah, tertekan rilis data kenaikan penjualan retail di Amerika Serikat.
Image title
17 November 2021, 09:53
rupiah, kurs rupiah, nilai tukar rupiah
Sigid Kurniawan | ANTARAFOTO
Ilustrasi. Rupiah pagi ini bergerak melemah bersama mayoritas mata uang Asia lainnya.

Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,14% ke level Rp 14.240 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Rupiah tertekan rilis data kenaikan penjualan retail di Amerika Serikat.

Mengutip Bloomberg, rupiah kian melemah ke posisi Rp 14.249 per dolar AS hingga pada pukul 09.40 WIB.  Mayoritas mata uang Asianya juga melemah pagi ini. Yen Jepang terkoreksi 0,02%, bersama dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singapura 0,04%, dolar Taiwan 0,09%, won Korea Selatan 0,29%, peso Filipina 0,12% dan ringgit Malaysia 0,16%.

Sementara itu, rupee India menguat 0,16% bersama yuan Cina 0,1% dan bath Thailand 0,01%.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan melemah di kisaran Rp 14.300 per dolar AS pada hari ini, dengan potensi penguatan di level Rp 14.200 per dolar AS. Rupiah tertekan dengan kenaikan kembali yield US Treasury usai rilis penjualan ritel AS yang kembali tumbuh kuat.

"Yield menguat setelah data penjualan ritel AS menunjukkan kenaikan pada bulan October dibandingkan bulan sebelumnya," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu (17/11).

Mengutip treasury.gov, yield US treasury bergerak naik untuk mayoritas tenor, kecuali yang tenor 1 tahun. Yield US Treasury tenor 10 tahun mencapai 1,63% pada perdagangan kemarin, tertinggi sejak awal bulan ini. Tenor panjang 20 tahun dan 30 tahun juga kembali bergerak ke atas 2% setelah pekan sebelumnya sempat turun.

Yield kembali naik setelah Departemen Perdagangan AS melaporkan kenaikan pada penjualan ritel Oktober sebesar 1,7% secara bulanan. Kenaikan lebih tinggi dari bulan sebelumnya 0,8%. Penjualan ritel ini menunjukkan ukuran berapa banyak konsumen belanja barang-barang mulai dari otomotif hingga barang olahraga, makanan dan gas.

Belanja online mencatat kenaikan relatif terbesar untuk bulan ini, naik 4% secara bulanan dan 10,2% dari tahun lalu. Penjualan bensin juga naik 3,9% secara bulanan, dan lonjakan 46,8% dibandingkan tahun lalu.

Laporan data ini menunjukkan bahwa konsumen di AS menunjukkan tingkat pengeluaran konsumen masih cepat, sekalipun pada periode yang sama inflasi melanjutkan kenaikan. Konsumsi yang masih tinggi ini mendorong inflasi berpotensi semakin memanas.

"Kenaikan penjualan ritel ini mendukung kenaikan inflasi yang disebabkan tingginya konsumsi. Skenario percepatan kenaikan suku bunga acuan AS terbuka," kata Ariston.

Bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) akan memulai tapering off berupa pengurangan quantitative easing mulai akhir bulan ini. Namun, The Fed menegaskan belum mempertimbangkan kenaikan bunga acuan sekalipun inflasi tinggi.

Pernyataan tersebut sempat meredam kekhawatiran pasar untuk sementara waktu, sebelum akhirnya sentimen kenaikan bunga acuan kembali melambung usai rilis data inflasi pekan lalu. Inflasi AS pada Oktober sebesar 0,9% secara bulanan dan 6,2% secara tahunan. Kenaikan inflasi tahunan tercatat sebagai yang tertinggi dalam 30 tahun terakhir.

Analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.180-Rp 14.263 per dolar AS. Senada dengan Ariston, sentimen eksternal dari rilis penjualan ritel AS akan menekan nilai tukar. Meski begitu, beberapa sentimen dalam negeri dapat membantu menahan pelemahan lebih dalam.

"Dari dalam negeri akan ditopang oleh prospek ekonomi yang membaik dan surplus neraca dagang yang sangat tinggi," kata Rully kepada Katadata.co.id.

Neraca dagang pada Oktober kembali mencetak surplus tertinggi sepanjang sejarah mencapai US$ 5,73 miliar. Dengan demikian, surplus neraca perdagangan sepanjang Januari-Oktober telah mencapai US$ 30,81 miliar.

Kinerja moncer tersebut didorong oleh ekspor yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan impor. Nilai ekspor bulan lalu yang mencapai US$ 22,03 miliar naik 6,89% dibandingkan bulan sebelumnya dan juga merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Sementara itu, impor hanya naik 0,36% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$ 16,29 miliar.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait