Rupiah Berpotensi Menguat Ditopang Ramalan Surplus Transaksi Berjalan

Rupiah berpotensi menguat menanti data neraca transaksi berjalan kuartal III 2021 yang diperkirakan surplus.
Image title
19 November 2021, 09:39
rupiah, neraca transaksi berjalan, surplus transaksi berjalan
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.
Ilustrasi. Rupiah pagi ini menguat bersama mayoritas mata uang Asia lainnya.

Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis 0,01% ke level Rp 14.221 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Namun, rupiah berpotensi menguat menanti data neraca transaksi berjalan kuartal III 2021 yang diperkirakan surplus.  

Mengutip Bloomberg, rupiah melanjutkan pelemahan ke posisi Rp 14.222 per dolar AS, semakin melemah dari posisi penutupan kemarin Rp 14.220 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia lainnya juga melemah. Yen Jepang terkoreksi 0,06%, dolar Hong Kong melemah 0,01%, dolar Singapura 0,13%, won Korea Selatan 0,3%, peso Filipina 0,16%, ringgit Malaysia 0,04% dan bath Thailand 0,08%. Sementara itu, yuan Cina menguat 0,04% bersama rupee India 0,05% dan dolar Taiwan 0,01%.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan, rupiah akan menguat hari ini ke level Rp 14.180-Rp 14.250 per dolar AS. Penguatan sejalan dengan rilis data neraca pembayaran yang diramal kembali surplus sepanjang kuartal III 2021.

Advertisement

"Kemarin BI memperkirakan neraca transaksi berjalan kuartal ketiga akan surplus.," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat (19/11).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi persnya kemarin memperkirakan, transaksi berjalan kuartal III 2021 mencatatkan surplus. Optimisme ini ditopang oleh kinerja ekspor yang tinggi sejalan dengan kenaikan permintaan global dan harga komoditas dunia.

Kinerja ekspor-impor yang moncer berlanjut hingga awal kuartal terakhir tahun ini. Neraca perdagangan kembali surplus US$ 5,7 miliar pada Oktober. Ini merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Perkembangan ini didukung oleh kinerja ekspor komoditas utama, seperti batu bara, CPO, serta besi dan baja.

"Ke depan, defisit transaksi berjalan diprakirakan akan tetap rendah pada tahun 2021 dan 2022, sehingga mendukung ketahanan sektor eksternal Indonesia," kata Perry dalam Konferensi Pers Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur BI edisi November, Kamis (18/11).

Proyeksi surplus tranaksi berjalan pada kuartal ketiga ini mengindikasikan pembalikan dari defisit sepanjang paruh pertama tahun ini. Defisit pada kuartal kedua sebesar US$ 2,2 miliar atau setara 0,8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit pada periode tersebut melebar dari kinerja bulan sebelumnya defisit US$ 1,1 miliar atau 0,4% terhadap PDB.

Di sisi lain, Ariston juga mengatakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi masih bisa menekan rupiah kembali yang termasuk aset berisiko. Inflasi tinggi tengah menjangkit sejumlah negara, terutama di AS dan Cina.

"Kenaikan inflasi berpotensi melambatkan perekonomian global," kata Ariston.

Memburuknya sentimen terhadap aset berisiko seiring tekanan inflasi yang terus meluas. Setelah AS dan Cina, kini giliran Inggris yang melaporkan inflasi tinggi. Harga-harga di Inggris melonjak 4,2% secara tahunan pada Oktober, lebih tinggi dari kenaikan tahunan bulan sebelumnya 3,1%. Inflasi Oktober merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Berbeda dari Ariston, analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Nilai tukar diramal melemah di posisi Rp 14.262 per dolar AS, dengan potensi penguatan di kisaran Rp 14.195.

Rully mengatakan dampak dari langkah tapering off bank sentral AS yang diumumkan awal bulan ini masih akan terasa. Tekanan akan semakin menguat mendekati waktu dimulainya tapering yang dijadwalkan akhir bulan ini.

"Tekanan telah terjadi sejak awal bulan November, menyusul pernyataan The Fed mengenai dimulainya normalisasi pada bulan November ini," kata Rully kepada Katadata.co.id.

Bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) berencana memulai tapering off berupa pengurangan pembelian aset. Adapun besaran pengurangan tersebut US$ 15 miliar, dari pembelian rutin mereka sebesar US$ 120 miliar. Pembelian ini juga dijadwalkan berakhir pertengahan tahun depan.

Meski demikian, Rully mengatakan sentimen perbaikan ekonomi domestik dapat membantu menahan pelemahan yang lebih dalam. Sejumlah data ekonomi menunjukkan perbaikan, seperti Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang ekspansi, kepercayaan konsumen yang membaik, serta surplus neraca dagang yang berlanjut.

 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait