Gunakan Sistem Baru, LPS Pangkas Waktu Pembayaran Klaim Jadi 15 Hari

Reza Pahlevi
11 Desember 2021, 11:51
LPS, klaim penjaminan, bank, simpanan bank
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.
Ilustrasi. LPS telah membayarkan klaim simpanan nasabah bank yang dilikuidasi sebesar Rp 1,69 triliun selama 2005 hingga 2021.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan menerapkan sistem baru untuk pelaporan data simpanan dan penjaminan nasabah bernama Single Customer View (SCV). Kehadiran sistem baru ini akan memangkas waktu pembayaran klaim dari semula 90 hari menjadi 15 hari.

Direktur Group Penanganan Klaim LPS, Ade Rahmat menjelaskan, SCV memuat data detail nasabah termasuk dana simpanan dan pinjaman yang dimilikinya di suatu bank. Data detail ini akan terintegrasi dengan data e-laporan yang sudah dilaporkan tiap bank per bulannya. Dengan demikian, pembayaran klaim dari bank yang ditutup diharapkan dapat lebih cepat. 

“Kami berharap (dengan adanya SCV) ini pembayaran klaim bisa jadi 15 hari saja dari sebelumnya 90 hari,” ujar Ade dalam media workshop di Bandung, Jumat (10/12) malam.

Sesuai Undang-undang nomor 24 tahun 2004 tentang LPS, LPS wajib melakukan pembayaran kepada nasabah selambat-lambatnya 90 hari kerja terhitung sejak izin usaha bank dicabut.

Menurut Ade, target waktu pembayaran klaim 15 hari ini mendekati standar waktu pembayaran klaim yang ditetapkan International Association of Deposit Insurers (IADI). Dalam panduan IADI, pembayaran klaim dilakukan dalam 7 hari.

Adapun saat ini, menurut Ade, LPS telah menyiapkan aplikasi khusus bernama SCV Client untuk mempermudah bank mengunggah data SCV nasabah. Uji coba telah dilakukan LPS bersama dengan Bank Mandiri, BTN, dan BTPN Syariah.

Ade berharap SCV Client bisa diluncurkan Desember 2021 ini. Setelahnya, 107 bank umum dalam negeri akan mulai menerapkannya pada Januari 2022. Rencananya, masa penerapan ini dapat selesai pada enam bulan pertama 2022.

Direktur Group Sistem Informasi LPS Monang Siringoringo menjelaskan, data detail SCV nasabah ini tidak disetor langsung ke LPS, melainkan disimpan di masing-masing bank. LPS baru dapat mengakses data tersebut jika bank terkait terancam bangkrut.

“Yang wajib disetor ke LPS adalah data ringkas per bank tiap bulan dan data ringkas nasabah tiap bulan Mei,” kata Monang dalam kesempatan yang sama.

Monang menjelaskan, data SCV akan memangkas proses rekonsiliasi dan verifikasi yang dilakukan LPS ketika satu bank mengalami kebangkrutan. LPS sebelumnya harus melakukan rekonsiliasi dan verifikasi manual dengan cara mencocokkan data detail nasabah dengan data ringkas yang sudah disetor setiap bulan.

“Sebelumnya, kita harus ke bank, meminta  langsungdata detail nasabah. Dengan adanya SCV, data ringkas per bank akan terintegrasi langsung dengan data detail nasabah hingga proses rekonsiliasi dan verifikasi lebih cepat,” katanya.

Dengan data detail tersebut, LPS dapat menentukan mana nasabah yang layak menerima pembayaran atau tidak. Mengacu pada UU LPS pasal 19 ayat 1, ada tiga hal yang menentukan penjaminan layak dibayar:

Advertisement
  1. Data simpanan nasabah tercatat dalam sistem bank.
  2. Bunga simpanan nasabah tidak melebihi suku bunga yang ditetapkan LPS yang saat ini ditetapkan sebesar 3,5%.
  3. Nasabah tidak mengalami kredit macet

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyebut pihaknya telah membayarkan klaim simpanan nasabah bank yang dilikuidasi sebesar Rp 1,69 triliun selama 2005 hingga 2021. Pembayaran tersebut dilakukan untuk 265.797 rekening nasabah.

“Saya melihat ini pertanda baik, artinya setelah tahun 1998 sektor perbankan kita tidak mengalami tekanan yang sangat masif ini bisa jadi karena manajemen yang baik atau memang ekonomi kita baik,” ujar Purbaya dalam keterangan resmi, Kamis (9/12).

Dalam periode 2006 hingga Februari 2021, LPS tercatat telah melikuidasi 111 bank. Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah bank yang dilikuidasi terbanyak, yaitu mencapai 40 bank.

 

Reporter: Reza Pahlevi
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait