Modal Asing Kabur Rp 410 Miliar dari SBN, Rupiah Melemah ke 14.336/US$

Aksi jual asing di pasar keuangan menyeret nilai tukar rupiah melemah 0,28% pada penutupan perdagangan hari ini.
Image title
21 Januari 2022, 17:43
rupiah, dolar AS, aliran modal asing
Adi Maulana Ibrahim |Katadata
Ilustrasi. Nilai tukar rupiah parkir di level Rp 14.336 per dolar AS di perdagangan akhir pekan ini.

Bank Indonesia mencatat aliran modal asing kabur dari pasar keuangan domestik Rp 140 miliar dalam sepekan terakhir. Aksi jual aset di pasar keuangan juga menyeret nilai tukar rupiah yang melemah 0,28% di penutupan perdagangan hari ini.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono menjelaskan, terdapat jual neto di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 410 miliar, tetapi beli neto Rp 270 miliar di pasar saham.

"Berdasarkan data setelment sejak awal tahun sampai dengan 20 Januari 2022, nonresiden beli neto Rp 1,57 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 4,55 triliun di pasar saham," kata Erwin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/1).

BI turut mencatat tingkat premi risiko investasi atau credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun naik ke level 85,25 basis poin (bps) per 20 Januari 2022, lebih tinggi dari  83,79 bps pada akhir pekan lalu.

Advertisement

Tingkat imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) turun ke level 6,39% pada perdagangan hari ini. Sebaliknya, yield US Treasury melanjutkan kenaikan dan masih kokoh di atas level 1,8% pada perdagangan Kamis (20/1).

Investor asing yang kabur dari pasar SBN ikut menyeret pelemahan pada rupiah. Nilai tukar rupiah parkir di level Rp 14.336 per dolar AS di perdagangan akhir pekan ini. Kurs garuda melemah 40 bps atau 0,28% dari posisi akhir pekan lalu. Pergerakan nilai tukar rupiah dalam sepekan terutama dibayangi pengetatan moneter The Fed.

"Pasar sedang tertuju terhadap pernyataan bank sentral Amerika yang akan menaikan suku bunga di Maret, meksi dalam pertemuan pekan depan mungkin The Fed tidak akan membahasnya, tapi ini yang menjadi spekulasi harga rupiah bervariasi," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim As Syuaibi kepada Katadata.co.id.

Sentimen rencana The Fed untuk mempercepat kenaikan bunga acuan kembali menguat di beberapa pekan terakhir. The Fed diperkirakan menaikkan bunga acuannya sebanyak tiga bahkan bisa empat kali tahun ini. Pasar memperkirakan kenaikan pertama akan dilakukan pada Maret menyusul berakhirnya tapering off.

Sentimen pengetatan moneter The Fed ini juga tercermin dari pergerakan imba hasil alias yield US Treasury sepekan terakhir. Yield US Treasury tenor 10 tahun bertahan di atas 1,8% sepanjang pekan ini. Kenaikan sebenarnya sudah dimulai sejak awal bulan ini.

"Imbal hasil AS naik ini juga didorong oleh ekspektasi pasar bahwa Fed akan mengetatkan kebijakan moneter lebih cepat dari yang diantisipasi," kata Ibrahim.

Pertemuan bulanan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Kamis (21/1) memengaruhi pergerakan rupiah dalam dua hari terakhir. Analis pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, pasar tampaknya menyambut positif sinyal BI dalam merespon ketidakpastian pasar yang ditimbulkan oleh rencana pengetatan moneter The Fed.

"Petunjuk BI yang akan melakukan kebijakan moneter yang lebih ketat tahun ini dengan menaikan GWM secara bertahap untuk menarik likuiditas rupiah berlebih di pasar mungkin bisa menahan pelemahan rupiah," kata Ariston kepada Katadata.co.id.

Usai pengumuman langkah normalisasi kebijakan BI pada Kamis siang (20/1), rupiah ditutup menguat 23 bps di perdagangan kemarin. Meskipun sempat melemah di posisi pembukaan hari ini, namun kurs garuda masih berhasil mengaut tipis 5 bps dari penutupan kemarin.

BI mengumumkan dua langkah untuk memitigasi dampak rentetan dari normalisasi moneter di negara maju. BI akan memulai normalisasi kebijakan moneternya dengan memperkuat kebijakan nilai tukar serta kebijakan mengurangi likuiditas perbankan.

Normalisasi likuiditas dilakukan dengan menaikkan secara bertahap GWM (Giro Wajib Minimum) Rupiah. Kenaikan GWM untuk Bank Umum Konvensional (BUK) sebesar 150 bps pada Maret, 100 bps di bulan Juni serta 50 bps pada September. BI juga akan menaikkan GWM untuk bank umum syariah dan unit usaha syariah yang saat ini ditetapkan sebesar 3,5%. Kenaikan masing-masing 50 bps pada Maret, Juni, dan September. 

 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait