Bappenas Ramal Pertumbuhan Ekonomi 2021 Hanya 3,6%, Bali Masih Minus

Perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu yang dibuat Bappenas lebih rendah dibandingkan prediksi Kementerian Keuangan. Ekonomi Bali dan Papua Barat diperkirakan masih terkontraksi.
Image title
3 Februari 2022, 15:08
pertumbuhan ekonomi, bappenas, kementerian keuangan
ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf/rwa.
Ilustrasi.

Kementerian Perencanaan Pembangunan (PPN)/Bappenas memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun lalu hanya akan mencapai. Perkiraan tersebut lebih rendah dibandingkan perhitungan Kementerian Keuangan yang memperkirakan pertumbuhan dapat mencapai 4%.

Deputi Bidang Pemantauan, Evaluasi dan Pengendalian Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas Taufik Hanafi mengatakan, pemulihan ekonomi terutama didorong oleh perbaikan perekonomian di wilayah timur.  Meski begitu, mayoritas wilayah diperkirakan berhasil tumbuh positif.

"Dampak dari penerapan koridor pertumbuhan dan pemerataan terhadap disparitas kawasan timur Indonesia, kami bisa melihat laju pertumbuhan ekonomi untuk Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara dan Papua untuk tahun 2021 jauh lebih tinggi dari 2020," kata Taufik dalam Rapat Kerja Komisi XI dengan Bappenas, Kamis (3/2).

Bappenas memperkirakan pertumbuhan positif terjadi di mayoritas wilayah, berbanding terbalik dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Taufik memprediksi Bali dan Papua Barat pada tahun lalu masih mengalami kontraksi ekonomi masing-masing 2,9% dan 0,9%.

Advertisement

Pemulihan ekonomi nasional semakin kuat menuju akhir tahun 2021 setelah melambat saat dihantam Covid-19 varian Delta di pertengahan tahun. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat diperkirakan mencapai 4,6%, menguat dari realisasi 3,5% pada kuartal ketiga. 

Taufik mengatakan, pertumbuhan di kuartal keempat lebih tinggi seiring membaiknya penanganan pandemi yang mendorong mobilitas masyarakat juga meningkat di sebagian besar daerah. Selain itu, perekonomian juga membaik terutama di daerah yang berbasis industri dan ekspor komoditas. Sebaliknya, perekonomian di daerah yang berbasis pertanian cenderung tumbuh lebih rendah dikarenakan tidak adanya panen raya di periode akhir tahun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya optimistis pertumbuhan ekonomi nasional untuk keseluruhan tahun 2021 mencapai 4%. Kinerja ini terutama ditopang pemulihan yang cepat dan semakin kuat pada kuartal keempat yang diperkirakan mencapai 5%, lebih tinggi dari pertumbuhan kuartal ketiga di 3,5%.

"Konsumsi sangat kuat, investasi jugag menunjukan suatu pemulihan, pertumbuhan kredit juga pulih sangat tinggi dan belanja pemerintah pusat dan daerah, ini yang kita anggap akan memberikan dampak pada performa pertumbuhan di kuartal keempat sehingga pertumbuhan seluruh tahun akan cukup baik," kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (19/1).

Sementara itu, dalam asesmen Bank Indonesia (BI), sejumlah indikator ekonomi membaik hingga Desember 2021 yang mengindikasikan akselerasi proses pemulihan, antara lain karena mobilitas masyarakat, penjualan eceran, dan keyakinan konsumen. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2021 diperkirakan tetap berada dalam kisaran 3,2-4,0%.

BI optimistis pertumbuhan ekonomi tahun ini akan lebih kuat lagi. Kondisi ini didukung oleh mobilitas yang terus meningkat sejalan dengan akselerasi vaksinasi, pembukaan ekonomi yang semakin luas, dan stimulus kebijakan yang berlanjut. Pertumbuhan ekonomi diramal berada di kisaran 4,7%-5,5%.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait