BPS: Lonjakan Omicron Akan Tekan Kinerja Ekonomi Kuartal I

BPS menilai kenaikan kasus Omicron akan berpengaruh pada berkurangnya mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat pada kuartal pertama tahun ini.
Image title
21 Februari 2022, 20:26
omicron, varian omicron, pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan ekonomi kuartal I
ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf/rwa.
Ilustrasi. Pemerintah optimistis ekonomi kuartal I 2022 mampu tumbuh di atas 5% meski ada lonjakan kasus varian Omicron.

Badan Pusat Statistik (BPS) menilai kenaikan kasus Covid-19 sejak awal tahun yang didorong penyebaran varian Omicron akan memeengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2022. Hal ini sejalan dengan tren serupa selama pandemi dua tahun terakhir.

"Dengan naiknya kasus Omicron sekarang, tentu saja akan berpengaruh pada mobilitas dan berpengaruh ke kinerja ekonomi kuartal 2022," kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam Diskusi Publik Forum Masyarakat Statistik (FMS): Kinerja Pertumbuhan Ekonomi di Masa Pandemi, Senin (21/2).

Jika menilik catatan pertumbuhan ekonomi domestik selama dua tahun terakhir, menurut Margo, lonjakan kasus Covid-19 berpengaruh kepada kinerja pertumbuhan ekonomi nasional. Kenaikan kasus positif berpengaruh kepada mobilitas yang berimplikasi kuat terhadap aktivitas ekonomi. Dengan demikian, menurut dia, aktivitas ekonomi akan tertahan jika terjadi restriksi aktivitas maskyarakat. 

"Penangan kesehatan berpengaruh ke mobilitas, mobilitas nanti yang akan menentukan aktivitas ekonomi dan, artinya penanganan kesehatan menjadi isu penting bagi pemulihan ekonomi di Indonesia," kata Margo.

Advertisement

Dia mencontohkan, saat Covid-19 pertama kali dikonfirmasi pada Maret 2020, mobilitas masyarakat mulai berkurang dan berdampak pada perlambatan ekonomi kuartal I 2020 yang hanya tumbuh 2,97%. Pertumbuhan makin anjlok pada kuartal kedua yang mencatatkan minus 5,34% saat pemerintah mulai memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kontraksi ekonomi pun berlanjut hingga kuartal I 2021.

Ekonomi baru tumbuh melesat pada kuartal kedua 2021 mencapai 7,07% saat mobilitas masyarakat mulai dilonggarkan. Namun kinerjanya berbalik jatuh meski masih tumbuh  3,51% pada kuartal III lantaran pemerintah memberlakukan PPKM Darurat dan PPKM Level 4 pada Juli akibat lonjakan varian Delta.

Sekalipun dibayangi risiko kenaikan kasus Covid-19, Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam pernyataannya awal bulan ini optimistis pertumbuhan ekonomi tiga bulan pertama tahun ini akan lebih baik dibandingkan kuartal I tahun lalu yang masih terkontraksi.

Optimisme juga disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Dia yakin pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini lebih tinggi dibandingkan Kuartal I 2020 sekalipun pemerintah kembali memberlakukan pengetatan mobilitas.

"Kami melihat pertumbuhan di kuartal 1 tahun lalu masih minus 0,7%, kita harapkan di kuartal 1 tahun ini kami bisa dorong di atas 5%," kata Airlangga dalam Konferensi Pers PPKM pada Senin (7/2), seperti dikutip dari Antara. 

Tren kenaikan kasus Covid-19 sempat menunjukkan kenaikan pada pekan lalu dan sempat menyentuh rekor tertingginya sejak awal pandemi. Tren penurunan kemudian mulai terlihat sejak akhir pekan lalu. Laporan hari ini terdapat penambahan 34.418 kasus baru, terendah sejak 5 Februari 2022.

Meski mulai menunjukkan penurunan, pemerintah tetap memperpanjang PPKM di Jawa dan Bali. Beberapa daerah mengalami kenaikan status menjadi Level 4, sementara Jabodetabek, Bandung Raya, Bali, Yogyakarta, Bandung Raya, Surabaya Raya, Malang Raya, Semarang Raya dan Solo Raya berlaku PPKM Level 3.


Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait