Risiko Stagflasi Menghantui Global, Sri Mulyani Waspadai Imbas ke RI

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, fenomena stagflasi dapat menimbulkan imbas negatif yang luar biasa ke seluruh dunia, terutama negara berkembang termasuk Indonesia.
Image title
20 Mei 2022, 17:45
stagflasi, inflasi, sri mulyani
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Ilustrasi. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan, pemerintah harus mewaspadai dampak rambatan dari pengetatan kebijakan moneter dan likuiditas global.

Fenomena stagflasi tengah menghantui banyak negara, terutama Amerika Serikat. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, fenomena ini dapat menimbulkan imbas negatif yang luar biasa ke seluruh dunia, terutama negara berkembang termasuk Indonesia. 

"Kondisi stagflasi akan memberikan imbas negatif luar biasa ke seluruh dunia terutama terhadap negara-negara berkembang dan emerging market," ujar Sri Mulyani dalam Penyampaian Pemerintah terhadap Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN TA 2023 di Rapat Paripurna DPR, Jumat (20/5). 

Ia menjelaskan, tingkat inflasi di Amerika Serikat yang sangat tinggi mencapai 8,4% menjadi ancaman nyata bagi pemulihan ekonomi di negara tersebut, bahkan dunia. Menanggapi kondisi tersebut, Bank Sentral Amerika Serikat, tengah mempercepat upaya pengetatan moneter. 

Advertisement

Kondisi lonjakan inflasi yang disambut dengan kenaikan tingkat suku bunga tak hanya terjadi di negara maju. Sri Mulyani menyebut, sejumlah negara berkembang G20 seperti Brazil, Meksiko, dan Afrika Selatan telah menaikkan suku bunga acuannya secara sangat signifikan sejak awal 2021 demi meredam inflasi.

Ia mengatakan, pergeseran risiko, tantangan inflasi, dan pengetatan moneter saat ini menimbulkan situasi pilihan kebijakan yang sangat sulit bagi semua negara di dunia. Jika tidak terkelola dengan baik, risiko global ini akan menggiring kepada kondisi stagflasi, yaitu fenomena inflasi tinggi dan terjadinya resesi seperti yang terjadi di Amerika Serikat pada awal 1980 dan 1990. 

Sri Mulyani pun menekankan, perubahan risiko global ini harus menjadi fokus perhatian dan harus kita kelola secara tepat langkah dan tepat waktu, hati-hati dan efektif. Ia menekankan, pilihan kebijakan menjadi sangat sensitif dan tidak mudah.

"Pilihan kebijakannya, adalah apakah segera mengembalikan stabilitas harga yang berarti pengetatan moneter dan fiskal yang memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan, atau tetap mendukung akselerasi pemulihan ekonomi setelah terpukul pandemi," kata dia. 

Pemerintah juga harus mewaspadai dampak rambatan dari pengetatan kebijakan moneter dan likuiditas global, khususnya terhadap kenaikan cost of fund untuk pembiayaan APBN maupun sektor korporasi. Namun demikian, Sri Mulyani meyakini Indonesia akan mampu menghadapi tantangan baru yang berbeda dan sangat kompleks ini.

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait