Ekonomi RI Berdasarkan Daya Beli Terbesar Ketujuh Dunia, Salip Inggris

Agustiyanti
27 Oktober 2022, 13:44
PDB, ekonomi Indonesia, IMF
ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA
Ilustrasi. IMF mencatat ekonomi Indonesia persis berada di bawah Rusia

Dana Moneter Internasional atau IMF mencatat, Indonesia masuk dalam kelompok 10 negara dengan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) terbesar di dunia. Indonesia berada di posisi ketujuh, menyalip Brasil, Inggris, dan Prancis. 

Mengutip World Economic Outlook IMF edisi Oktober, PDB Indonesi mencapai US$ 4,02 triliun berdasarkan pendekatan Purchasing Power Parity (PPP) atau paritas daya beli. PPP adalah perbandingan nilai suatu mata uang ditentukan oleh daya beli uang tersebut terhadap barang dan jasa di masing-masing negara.

Posisi Indonesia mengalahkan Brasil, Inggris, dan Prancis yang perekonomiannya mencapai US$3,78 triliun, US$3,77 triliun, dan US$3,68. Indonesia persis berada dibelakang Rusia dengan ekonomi mencapai US$ 4,46 triliun. 

Adapun Cina menempati posisi pertama dengan PDB mencapai US$ 30,07 triliun, disusul Amerika Serikat (AS) US$ 25,03 triliun, India US$ 11,66 triliun, Jepang US$ 6,11 triliun,  dan Jerman US$ 5,3 triliun.

IMF melihat kinerja ekonomi Indonesia masih cukup menjanjikan di tengah perkiraan perlambatan ekonomi global. "Indonesia tetap menjadi sebuah titik yang terang di tengah ekonomi dunia yang memburuk," tulis Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam unggahan di akun instagram pribadinya @kristalina.georgieva, Senin (10/10).

Lembaga ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan mencapai 5,3% dan melambat menjadi 5% pada tahun depan. Proyeksi pertumbuhan ini masih lebih baik dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global  pada tahun depan yang dipangkas dari 2,9% menjadi 2,7%. 

Menurut IMF, prospek ekonomi Indonesia juga lebih baik dibandingkan Malaysia yang diperkirakan tumbuh 4,4%, Thailand 3,7%, Singapura 2,3%, dan Filipina 5%.  Hanya Vietnam dan kamboja yang diperkirakan tumbuh lebih tinggi masing-masing mencapai 6,2%. 

Menurut IMF, ada tiga masalah utama yang menjadi penghambat ekonomi tahun depan. Pertama, inflasi yang terus-menerus naik dan meluas yang  menyebabkan krisis biaya hidup. Kedua, invasi Rusia ke Ukraina dan krisis energi terkait. Ketiga, perlambatan ekonomi di Cina.

Lembaga multilateral ini juga melihat sepertiga ekonomi dunia yang terdiri dari 31 negara akan mengalami kontraksi ekonomi secara berturut-turut. Kondisi tersebut didefinisikan oleh sebagian besar ekonom dan negara sebagai resesi ekonomi. 

Advertisement
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait