Sinyal Kenaikan Suku Bunga Berakhir, BI Sebut 5,75% Memadai

Abdul Azis Said
19 Januari 2023, 15:55
Perry, suku bunga BI, bunga BI, suku bunga
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kanan) didampingi Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto (tengah) dan Dody Budi Waluyo (kiri). Perry menyebut suku bunga BI sebesar 5,25% memadai untuk memastikan inflasi inti di bawah 4% usai Rapat Dewan Gubernur bulanan Januari 2023.

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan mencapai 2,25% sepanjang tahun lalu menjadi 5,75%. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut, kenaikan suku bunga tersebut sudah memadai untuk memastikan inflasi inti tetap berada di bawah 4%. 

Pernyataan tersebut disampaikan Perry saat membacakan keterang pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI dan kembali ditegaskan saat menjawab pertanyaan wartawan terkait prospek kenaikan suku bunga ke depan. 

"Kebijakan suku bunga BI selalu diarahkan untuk memastikan inflasi akan kembali kepada sasaran dalam kondisi kemarin setelah penyesuaian BBM tentu indikator inflasi yang utama adalah inflasi inti," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers secara di Jakarta, Kamis (19/1).

Meski demikian, kata memadai yang dimaksud Perry berlaku dengan syarat tidak akan ada kejadian luar biasa atau extraordinary  ke depannya."Kata-kata memadai itu sudah bisa menjawab pertanyaan pertanyaan tadi (terkait ruang kenaikan bunga ke depan)," kata Perry.

BI memastikan kenaikan suku bunga bukan hanya berdampak pada inflasi inti, tetapi juga inflasi secara keseluruhan yang diperkirakan  kembali ke bawah 4% pada paruh kedua. Adapun inflasi secara keseluruhan  pada akhir 2022 sebesar 5,51%, di bawah antisipasi awal bank sentral saat awal-awal kenaikan harga BBM.

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz melihat siklus kenaikan suku bunga Bank Indonesia  segera berakhir. Meski demikian, ia masih memberikan  suku bunga masih akan naik 50 bps lagi tahun ini menuju titik 'terminal rate' di 6,25%. Namun perkiraan tersebut bias ke bawah, berpeluang di bawah level tersebut jika disinflasi lebih cepat dari yang diharapkan.

"Rupiah telah terapresiasi dalam beberapa minggu terakhir di tengah ekspektasi perlambatan inflasi AS dan fundamental rupiah yang sehat," kata Irman dalam catatanya.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait