Tekan Emisi Karbon, Bappenas Dorong Swasta Bisnis Daur Ulang Sampah

Pemerintah juga akan menggandeng Denmark untuk mendukung industri daur ulang.
Image title
24 Februari 2020, 16:55
daur ulang sampah, bappenas, emisi karbon
ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Tumpukan sampah di Jalan Raya Kuta, Badung, Bali, Jumat (8/11/2019). Demi tekan emisi gas karbon ke angka 27%, Bappenas (24/2) akan dorong swasta berbisnis daur ulang sampah.

Pemerintah terus berupaya untuk menurunkan emisi gas karbon hingga 27% pada tahun 2024. Salah satu caranya adalah mendorong swasta mengembangkan industri daur ulang berbasis sampah.

Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Arifin Rudianto mengatakan pihaknya tengah menyusun ekosistem dari bisnis tersebut. Pemerintah juga akan menggandeng negara lain seperti Denmark untuk mendukung industri ini.

“Aktornya swasta, pemerintah sebagai mediator, fasilitator, dan inisiator,” kata Arifin di Jakarta, Senin (24/2).

(Baca: Punya Hutan Luas, RI Bisa Raup Rp 350 Triliun Dari Perdagangan Karbon)

Sementara itu, Menteri Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan langkah ini membuka peluang ekonomi baru. Bahkan, sampah daur ulang seperti limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi.

Dia memperkirakan implementasi dari sirkulasi ekonomi dapat memperpanjang masa penggunaaan produk dan membawa keuntungan yang berkelanjutan. "Sekarang limbah B3 juga bisa dimanfaatkan dan bisa dijadikan sesuatu. Ini artinya yang tersisa bisa memiliki ekonomi tinggi," kata Suharso.

Berdasarkan data Climate Accountability Institute (CAI), pada akhir tahun 2019, ada 20 perusahaan energi yang dianggap bertanggung jawab terhadap emisi global. Total 20 perusahaan yang tercatat ini menyumbang 480.168 MtCO2e atau 35,45 persen dari total emisi global.

Periode penghitungan emisi dilakukan mulai 1965 hingga 2017. Seluruh emisi global yang terhitung sejak 1965 hingga 2017 sebesar 1.354.388 MtCO2e.  

Dari data mereka, perusahaan Arab Saudi yakni Saudi Aramco, menyumbang emisi paling tinggi yakni 59.262 metrik ton setara karbon (MtCO2e) atau setara 4,38% emisi global. Raksasa migas asal AS yakni Chevron dan Gazprom dari Rusia masing-masing menyumbang 43.345 MtCO2e dan 43.230 MtCO2e atau setara 3,2 persen dan 3,19 persen emisi global.

(Baca: Luhut Sebut Indonesia Bisa Jadi Negara Superpower Tanpa Emisi Karbon)

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Video Pilihan

Artikel Terkait