Lima Jurus Kementan Pacu Produksi Pertanian di Tengah Pandemi Covid-19

Pada kuartal III 2020, sektor ini masih mencatatkan pertumbuhan 2,15% meski ekonomi RI minus 3,45%.
Image title
18 November 2020, 16:07
jfss2020, pangan, pertanian
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo memberikan materi di acara webinar Jakarta Food Security Summit -5, Rabu (18/11/2020)

Kementerian Pertanian menyiapkan lima langkah untuk memacu produksi pangan di tengah pandemi Covid-19. Apalagi berbeda dengan sektor lainnya, pertanian dan pangan relatif bertahan meski dihantam pagebluk.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan Langkah pertama adalah Perluasan Areal Tanam Baru (PATB) seluas 250 ribu hektare untuk beberapa komoditas seperti padi, jagung, dan bawang.

“Lalu ada pengembangan lahan rawa di Kalimantan Tengah 164.598 hektare,” kata Syahrul dalam acara Jakarta Food Security Summit (JFSS) yang ke-5 yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bekerja sama dengan Katadata.co.id, Rabu (18/11).

 

Kedua, diversifikasi pangan lokal berbasis kearifan lokal yang fokus pada satu komoditas. Syahrul mengatakan fokusnya menyasar tanaman ubi kayu dengan luas lahan 35.000 hektare, sagu 1.000 hektare, pisang 1.300 hektare, kentang 650 hektare dan sorghum 5.000 hektare.

“Ini merupakan langkah untuk mendorong agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi, selain melalui beras,” kata dia.

Ketiga, penguatan lumbung pangan dan cadangan beras. Syahrul memprediksi hingga Juni 2021, pasokan beras RI bisa mencapai 9 juta ton. “Karena dalam pandemi, stok yang penting itu adalah beras,” katanya.

Keempat pengembangan pertanian modern dengan smart farming, green house, food estate, dan korporasi petani. Khusus, food estate di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara pihaknya telah menyediakan 30 ribu hektare lumbung pangan.

Kelima adalah gerakan tiga kali ekspor alias Gratieks dengan cara kerja sama internasional, menambah ragam komoditas, mendorong munculnya eksportir baru, dan mitra dagang luar negeri. Syahrul mengatakan beberapa komoditas yang menjadi potensi adalah sarang burung walet serta manggis.

Syahrul mengatakan langkah ini penting untuk dilakukan apalagi tren sektor pertanian masih relatif positif. Pada kuartal III 2020, sektor ini masih mencatatkan pertumbuhan 2,15% meski ekonomi RI minus 3,45%.

Sedangkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Oktober 2020 mencapai 102,25 atau naik 0,58% dari September 2020. “Saya yakin ada kontribusi pertanian yang bisa menggerakkan ekonomi,” kata mantan Gubernur Sulawesi Selatan tersebut.

Sedangkan Kadin akan melakukan pendampingan kepada dua juta petani dengan skema inclusive close loop hingga tahun 2023. Skema bisnis ini mengandalkan sinergi banhyak pihak dari hulu hingga hilir pertanian.

“Melalui pendampingan, produktivitas petani naik 40% - 70%. Pendapatan mereka juga naik 50% - 200%, tergantung komoditas,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan Franky Oesman Widjaja.

 

Reporter: Annisa Rizky Fadila
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait