RS Penuh, Kemenkes Siapkan Layanan Telemedicine untuk Isolasi Mandiri

Nantinya RS hanya akan digunakan untuk pasien bergejala berat. Sedangkan mereka dengan gejala Covid-10 ringan dan OTG bisa berkonsultasi dengan dokter lewat telemedicine.
Ameidyo Daud Nasution
3 Juli 2021, 05:00
RS, rumah sakit, telemedicine, dokter, covid, isolasi
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Petugas medis mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap merawat pasien Covid-19 yang menunggu di pelataran untuk mendapatkan tempat tidur perawatan di IGD RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu, (23/6/2021). Kemenkes akan menyiapkan layanan telemedicine untuk pasien Covid-19 bergejala ringan dan OTG yang menjalani isolasi mandiri.

Kementerian Kesehatan akan menyediakan layanan konsultasi virtual alias telemedicine bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri. Ini agar pasien tak bergejala dan bergejala ringan tetap bisa berkonsultasi dengan dokter meski sedang isolasi di rumah maupun karantina terpusat.

Layanan ini diperlukan demi mengurangi beban rumah sakit. Dengan adanya fasilitas ini, maka rumah sakit hanya akan melayani pasien bergejala berat.

Bahkan Kemenkes juga akan mengeluarkan aturan terkait penyediaan akses konsultasi virtual ini. “Akan membuka akses untuk telemedicine,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi kepada Katadata.co.id, Jumat (2/7).

 

Advertisement

Sebelumnya Menteri Kesehatan Budi Gunadi sadikin mengatakan pasien yang mengakses layanan virtual tetap akan dilayani oleh dokter dan akan diberikan obat. Dalam layanan konsultasi ini, pasien juga bisa melakukan screening awal gejala Covid-19.

Nantinya dokter akan mengidentifikasi penanganan pasien berdasarkan hasil konsultasi. “Sehingga kami bisa arahkan kapan yang bersangkutan harus masuk rumah sakit atau tidak,” kata Budi dalam keterangan tertulis di laman Kemenkes, Kamis (1/7).

Kemenkes juga berencana untuk mengatur batas atas harga obat terapi bagi pasien corona. Selain mencegah lonjakan harga, Nadia  beralasan pengaturan tersebut dilakukan untuk kepentingan masyarakat terutama saat pandemi.  "Batas atas harga obat akan diatur segera," katanya.

Namun, Nadia enggan memerinci obat apa saja yang akan diatur batas atas harganya. Dia hanya memastikan, obat tersebut berada dalam Formularium Nasional (Fornas) dan akan segera rampung pada bulan ini. "Sedang dimatangkan untuk penetapan harganya," kata dia.

Sebelumnya peningkatan kasus Covid-19 membuat hampir semua rumah sakit rujukan di DKI Jakarta penuh. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan Bed Occupancy Rate (BOR) atau keterisian tempat tidur rumah rakit rujukan pasien Covid-19 di DKI Jakarta mencapai 93%.

 Sementara tingkat keterisian ruang ICU pasien Covid -19 di ibu kota sebesar 87%. "Namun kami terus meningkatkan dan mengupayakan penambahan tempat tidur dan ruang ICU, penambahan tenaga kesehatan, laboratorium, dan dukungan," kata Riza di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (28/6).

 

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait