Angka Kematian Pasien Covid Jatim Tinggi, Jokowi Tegur Kepala Daerah

Ameidyo Daud Nasution
20 Agustus 2021, 18:10
Jokowi, kematian, covid-19, jawa timur
Youtube/Setneg
Presiden Joko Widodo membacakan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR pada Senin (16/8).

Angka kematian pasien Covid-19 di Provinsi Jawa Timur hingga saat ini masih menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia. Bahkan hal tersebut menjadi sorotan Presiden Joko Widodo dalam arahan kepada Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Jatim pada Kamis (19/8).

Jokowi meminta seluruh kepala daerah dan TNI-Polri yang ada di Jatim memberikan perhatian terhadap tingginya angka kematian pasien corona. Presiden mengatakan, rasio kematian Covid-19 di provinsi tersebut masih berada di atas angka nasional.

"Jatim hati-hati, tinggi sekali, masih 7,1%," kata Jokowi dalam siaran virtual yang dibagikan pada Jumat (20/8).

 

Jokowi menduga, tingginya angka kematian di Jatim lantaran masih banyak pasien isolasi mandiri tak mendapatkan perawatan memadai. Ini mengakibatkan kondisi mereka memburuk begitu dibawa ke rumah sakit.

"Pasien tidak masuk isolasi terpusat, saturasi menurun dan ada komorbid baru dibawa ke rumah sakit," kata Jokowi.

Oleh sebab itu isolasi terpusat adalah kunci untuk menekan angka kematian pasien corona. Mantan Wali Kota Solo itu juga meminta pada kepala daerah, kepolisian, dan TNI tahu kondisi pasien di lapangan.

"Harus tahu oksigen habis berapa lama, obat-obatan juga, harus bisa diantisipasi," ujarnya.

Dari data Kementerian Kesehatan, angka kematian pasien corona di Jawa Timur pada Jumat (20/8) bertambah 203 orang. Sedangkan total kasus kematian Covid-19 di provinsi tersebut mencapai 26.277 orang atau posisi kedua di RI.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan indikator angka kematian pasien Covid-19 dalam penilaian perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 1 sampai 4 akan digunakan lagi pekan depan.

Saat ini pemerintah sedang memperbaiki  data tersebut.  Sebelumnya Pemerintah menghapus sementara data kematian akibat Covid-19 dari indikator level  PPKM lantaran sedang perlu diperbaiki. Hal tersebut lantaran ternyata data yang ada tidak akurat karena tidak menunjukkan angka yang benar pada tanggal rilisnya.

"Dalam satu sampai dua pekan ke depan data dan pelaporan ini selesai sehingga indikator kematian akan masuk assesment level PPKM," kata Luhut dalam konferensi pers virtual, Senin (16/8).

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait