Syafii Maarif, Tokoh Kerukunan Agama yang Gemar Naik Sepeda

Syafii Maarif pernah mendapatkan penghargaan atas usahanya mengedepankan dialog antar umat beragama. Dikenal sebagai sosok yang hidup sederhana.
Ameidyo Daud Nasution
27 Mei 2022, 14:31
syafii maarif, muhammadiyah, meninggal
Antara
Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1998-2005 Ahmad Syafii Maarif. Foto: Antara

Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif meninggal dunia pada Jumat (27/5). Selama hidupnya, Syafii terkenal sebagai tokoh yang terus menperjuangkan demokrasi, kerukunan umat beragama, hingga pluralisme.

Buya, panggilan akrabnya, bahkan sempat mendapatkan Ramon Magsaysay Award pada 2008. Ia dianggap mampu membawa Muhammadiyah dalam demokrasi, reformasi, dan menjadi kekuatan dalam moderasi agama.

Selain itu ia kerap mengingatkan umat Islam agar mengedepankan dialog antar agama. Hal ini untuk meredam konflik sektarian yang terjadi antara mayoritas Muslim dan minoritas Kristen usai kejatuhan Suharto.

"Syafii Maarif mengingatkan umat bahwa Islam mengajarkan kesetaraan semua orang, memimpin dialog antaragama, dan memperingatkan terhadap provokator yang mengipasi kebencian," demikian keterangan laman Ramon Magsaysay Award Foundation (RMAF) seperti dikutip pada Jumat (27/5).

Saat kejadian 9/11 hingga aksi terorisme di Bali dan Jakarta, Syafii juga menekankan bahwa aksi teror bukanlah wajah Islam. Dia lalu mengatakan bahwa kekerasan adalah kejahatan terhadap kemanusiaan.

"Serta toleransi dan pluralisme sebagai dasar keadilan dan harmoni di Indonesia dan dunia pada umumnya," bunyi keterangan RMAF.

Tak hanya itu, Syafii juga terkenal sebagai sosok yang sederhana. Putri mendiang Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid yakni Zannuba Ariffah Chafsoh mengatakan buya kerap kali menggunakan kereta atau sepeda untuk beraktivitas.

"Orang di Yogyakarta sudah biasa melihat beliau naik vespa atau sepeda, ini adalah warisan beliau," kata sosok yang akrab dipanggil Yenny Wahid ini dalam wawancara di Metro TV, Jumat (27/5)

Hal ini disebutnya merupakan warisan di tengah euforia masyarakat yang mengelu-elukan sosok kaya namun hanya mengedepankan tampilan semata. "Pemikiran beliau kaya, sumbangsihnya sangat besar bagi negara. Kita kehilangan sosok seperti itu," ujarnya.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait