Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah berencana menyetop impor bahan bakar pesawat atau avtur pada 2027.
Bahlil mengatakan penyetopan ini dilakukan melalui pengolahan solar yang diproduksi Kilang Pertamina Balikpapan menjadi avtur. Indonesia tahun ini memiliki kelebihan produksi solar untuk mandatory B-40 sebanyak 1,4 juta kilo liter (kl).
“Nanti dikonversi menjadi bahan baku avtur, agar 2027 kita sudah tidak lagi impor avtur,” kata Bahlil dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (22/1).
Berdasarkan Buku Saku Energi dan Ekonomi 2024 yang dipublikasikan Kementerian ESDM, Indonesia mengimpor sebanyak 1,78 juta kilo liter. Angka ini meningkat 6 kali lipat dibandingkan 2023 yang impornya hanya sebesar 278 ribu kl saja.
Membahas solar, Indonesia saat ini memiliki dua jenis produk. Pertama, Solar CN48 yang dipakai sebagai bahan bakar mobil-mobil pada umumnya. Kemudian, Solar CN51 yang dipakai untuk alat berat di lokasi ketinggian, seperti yang digunakan PT Freeport Indonesia untuk operasional tambang.
Pengolahan solar yang berasal dari kelebihan pasokan ini juga menandakan bahwa Indonesia sudah tidak lagi mengimpor solar mulai tahun ini. Ini khususnya untuk jenis Solar CN48.
“Tetapi kalau C51 sekarang kami sedang mendesain mesinnya, mulai tidak impor pada semester kedua 2026. Jadi semester satu CN51 tetap impor tapi volumenya tidak banyak,” ujarnya.
Penyetopan impor Avtur tahun depan juga dilakukan bersamaan dengan rencana stop impor bensin dengan kandungan oktan (RON) 92, RON 95, dan RON 98. Menurut Bahlil seluruh rencana ini perlu dilakukan agar Indonesia tidak perlu banyak mengimpor produk BBM.
“Kita kedepankan impor hanya dari minyak mentah saja (crude),” ucapnya.
Stop Impor Solar
Bahlil memastikan pemerintah sudah tidak mengeluarkan izin impor Solar CN48 sejak awal tahun ini. Penyetopan tersebut dilakukan sesuai perintah Presiden Prabowo Subianto.
Jika Indonesia pada periode Januari-Februari 2026 masih tercatat impor, maka itu berasal dari sisa kuota atau alokasi 2025. Meski impor berhenti, ia memastikan pemenuhan kebutuhan masih bisa dilakukan melalui produk hasil olah Kilang Balikpapan.
Kilang Balikpapan yang berkapasitas 360 ribu barel ini tidak hanya memproduksi semua jenis solar, tapi juga bensin, LPG, serta produk petrokimia yang ada di Indonesia.
Selain menyetop impor solar, beroperasinya Kilang Balikpapan juga akan menambah jumlah produksi bensin dalam negeri. Bahlil mengatakan saat ini total kebutuhan bensin di Indonesia mencapai hampir 40 juta kilo liter (kl). Untuk jumlah produksi bensin dalam negeri hanya sebesar 14 juta kl, ditambah 5,8 juta kl dari Kilang Balikpapan.
“Dengan penambahan 5,8 juta kl, maka sisa impor bensin kita kurang lebih tinggal 18-19 juta kl,” ucapnya.