Kementerian ESDM Sebut Kuota Pemangkasan RKAB Batu Bara Belum Final
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan belum mengeluarkan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) untuk komoditas batu bara tahun ini.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno merespons kabar yang beredar bahwa sejumlah perusahaan telah mengantongi persetujuan RKAB tanpa pemangkasan (0%) kuota produksi. Padahal Kementerian ESDM berencana memangkas RKAB batu bara untuk mengerek harga nya tahun ini. Dia menyebut berita-berita yang beredar merupakan informasi yang tidak benar.
“Poinnya adalah sampai saat ini Kementerian ESDM belum mengeluarkan persetujuan RKAB 2026,” kata Tri saat ditemui di Jakarta Selatan, Kamis (5/2).
Tri mengatakan pemerintah ingin memastikan produksi batu bara yang lebih terkontrol. Tahun lalu pemerintah memberikan persetujuan RKAB batu bara mencapai 1,2 miliar ton. Namun realisasinya pada 2025 total produksi batu bara hanya 790 juta ton.
“Logikanya begini, kalau persetujuan tahun ini sama dengan tahun kemarin berarti mesti dipangkas. Tapi tetap proporsional, artinya yang PNBP, kontribusinya besar maka potongannya tidak begitu (besar),”
Senada, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan sebelumnya bahwa pemangkasan ini bertujuan untuk menjaga harga komoditas. Indonesia pada 2025 telah memproduksi 790 juta ton batu bara dengan komposisi 65% untuk ekspor dan 32% dialokasikan kebutuhan domestik.
Jumlah batu bara yang diperdagangkan di seluruh dunia berjumlah 1,3 miliar ton. Dari jumlah tersebut Indonesia menyuplai 43% atau 514 juta ton. Hal ini berakibat pada ketidakseimbangan permintaan dan penawaran sehingga harga batu bara turun.
“Produksi kami turunkan agar harga bagus dan tambang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Mengelola sumber daya alam tidak harus semuanya habis saat ini,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (8/1).
Sementara itu, analis menyebut sejumlah perusahaan diuntungkan dari kebijakan ini. Analisis BNI Sekuritas menyebut produksi PT Adaro Andalan Indonesia Tbk dinilai tetap aman di kisaran 65 juta ron. Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dinilai memiliki posisi kuat karena produksi KPC dan Arutmin tidak terkena pemangkasan, dengan estimasi total produksi sekitar ±74 juta ton.
Adapun INDY, melalui Kideco, berada di zona aman dengan estimasi produksi sekitar ±30 juta ton. “Pemenang adalah emiten dengan kuota aman dan volume besar, karena bisa menjual di harga lebih baik saat suplai nasional diketatkan,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam analisisnya, dikutip Kamis (5/2).
Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas juga menyoroti sejumlah emiten yang berpotensi dirugikan akibat pemangkasan produksi batu bara. PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) diperkirakan mengalami penurunan produksi dari sekitar 6 juta ton menjadi 3,3 juta ton atau turun sekitar 45%.
Lalu PT Bayan Resources Tbk (BYAN) berpotensi terkena pemangkasan lebih dalam, dengan produksi yang diperkirakan turun dari sekitar 80 juta ton menjadi 38 juta ton atau merosot sekitar 53%. Sementara itu, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga termasuk emiten yang mengalami pemangkasan signifikan, bahkan diperkirakan lebih dari 50%. “Kenaikan harga belum tentu menutup kehilangan volume, terutama jika pemangkasan dalam,” tulis BRI Danareksa.