Daftar 5 Negara dengan Ketahanan Stok Minyak Terbanyak di Dunia

Vecteezy.com/Uriel Eichenbaum
Ilustrasi stok minyak mentah, ketahanan energi.
Penulis: Mela Syaharani
3/3/2026, 15.17 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan ketahanan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih mencukupi untuk 20 hari di tengah perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2024, ketahanan energi merupakan kondisi terjaminnya ketersediaan energi dan akses masyarakat terhadap energi pada harga yang terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup.

“Masih cukup, 20 hari. Sampai dengan hari ini tidak ada masalah,” kata Bahlil sebelum menghadiri rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/3).

Indonesia bukanlah negara dengan ketahanan minyak yang memadai di dunia. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan mensyaratkan anggotanya untuk memiliki stok minyak minimal untuk 90 hari impor bersih. Saat ini, pemilik stok minyak terbanyak rata-rata berasal dari Eropa. 

Berikut daftar 5 negara dengan stok minyak terbanyak menurut data IEA per November 2025:

Estonia 

Estonia, negara kecil di Eropa Utara merupakan negara anggota IEA dengan stok minyak terbanyak, cukup untuk memenuhi kebutuhan 11.111 hari. Berdasarkan laman IEA, besaran ketahanan tersebut diperuntukkan bagi dua kepentingan. Pertama, untuk kebutuhan industri 5.344 hari sementara untuk publik atau masyarakat luas tersedia ketahanan stok untuk 5.767 hari.

Sebagai anggota Uni Eropa, Estonia memang diwajibkan untuk mempertahankan volume minimum stok minyak darurat selama 90 hari impor bersih atau 61 hari konsumsi harian.

Tren ketahanan minyak Estonia mengalami fluktuasi. Pada Januari 2020 jumlah stok minyaknya mencapai 46.634 hari, kemudian menyusut 5.108 hari pada awal 2021. Negara yang memiliki 1,33 juta penduduk ini sempat menjadi net eksportir minyak sehingga tidak tercatat berapa jumlah ketahanan minyaknya pada 2023.

Belanda

Belanda memiliki stok minyak yang cukup untuk 413 hari. Ketahanan minyak tersebut terdiri atas 260 hari untuk industri dan 153 hari untuk kebutuhan masyarakat. Belanda merupakan salah satu anggota Uni Eropa sehingga wajib mempertahankan volume minimum stok minyak darurat paling tidak selama 90 hari impor bersih atau 61 hari konsumsi harian.

Awal tahun lalu jumlah ketahanan energi Belanda lebih tinggi yakni mencapai 458 hari. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan Januari 2024 sebanyak 1.324 hari.

Denmark

Denmark memiliki stok minyak yang cukup untuk 345 hari. Komposisi ketahanan tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan industri 217 hari dan kebutuhan masyarakat 128 hari. Denmark juga merupakan anggota Uni Eropa sehingga wajib mempertahankan volume minimum stok minyak darurat paling tidak selama 90 hari impor bersih atau 61 hari konsumsi harian.

Finlandia

Finlandia memiliki stok minyak yang cukup untuk kebutuhan 292 hari. Negara yang masuk kawasan Skandinavia ini membagi ketahanan minyak mereka untuk dua kepentingan yakni kebutuhan industri 115 hari untuk industri dan 177 hari untuk kebutuhan masyarakat.

Meski tidak berada dalam daratan yang sama, namun Finlandia masih masuk dalam anggota Uni Eropa sehingga memiliki kewajiban untuk mempertahankan volume minimum stok minyak darurat paling tidak selama 90 hari impor bersih atau 61 hari konsumsi harian.

Angka ketahanan energi Finlandia meningkat dibandingkan awal 2024 yang hanya mencapai 194 hari.

Jepang

Menurut laman resmi IEA, data ketahanan minyak Jepang sebanyak 206 hari per November 2025. Kendati demikian Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan, Jepang memiliki stok ketahanan minyak untuk 254 hari, pada Senin (2/3). Takaichi juga memastikan pasokan energi tetap stabil di tengah penutupan jalur pengiriman minyak Selat Hormuz di Timur Tengah.

Dia menyebut pemerintah saat ini sedang mengumpulkan informasi terkait penutupan Selat Hormuz, sebab jalur tersebut merupakan rute krusial bagi Jepang.

“Beberapa kapal tanker minyak mentah yang menuju Jepang sedang bersiap di Teluk Persia dan keamanan awak kapal terjamin,” kata Takaichi dikutip dari dikutip dari The Mainichi, Selasa (3/3).

Jepang siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan jika ada dampak ekonomi imbas konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat. “Kami akan memastikan pasokan energi yang stabil ke negara kami,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani