Selat Hormuz Ditutup, Negara-negara Asia Bakal Paling Terdampak

REUTERS/Stringer
Sejumlah analis menilai negara-negara di Asia bakal mengalami dampak terparah dari penutupan jalur pengiriman minyak dan gas (migas) di Selat Hormuz.
Penulis: Hari Widowati
4/3/2026, 17.57 WIB

Keputusan Iran menutup Selat Hormuz menggemparkan pasar energi global. Sejumlah analis menilai negara-negara di Asia bakal mengalami dampak terparah dari penutupan jalur pengiriman minyak dan gas (migas) yang penting ini.

Seorang komandan senior dari Garda Revolusi Iran mengatakan Selat Hormuz telah ditutup, pada Senin (2/3). Media Iran melaporkan, Garda Revolusi Iran memperingatkan setiap kapal yang mencoba melintasi perairan tersebut akan menjadi sasaran tembak.

Selat Hormuz, yang terletak di antara Oman dan Iran, berfungsi sebagai arteri vital bagi perdagangan minyak global. Data dari firma konsultan energi Kpler menunjukkan sekitar 13 juta barel per hari melewati selat ini pada tahun 2025, mewakili sekitar 31% dari seluruh aliran minyak mentah melalui laut.

Penutupan yang berkepanjangan di selat tersebut kemungkinan akan menyebabkan lonjakan harga minyak lebih lanjut. Beberapa analis memperkirakan harga minyak bisa melampaui US$ 100 per barel. Harga minyak acuan Brent terakhir naik 2,6% menjadi sekitar US$ 80 per barel — hampir 10% lebih tinggi sejak konflik meletus.

Sekitar 20% dari ekspor gas alam cair (LNG) global yang berasal dari Teluk Persia juga berisiko, terutama yang berasal dari Qatar dan dikirim melalui Selat Hormuz. Qatar, salah satu penyedia LNG terbesar di dunia, menghentikan produksi LNG setelah drone Iran menyerang fasilitasnya di Kota Industri Ras Laffan dan Kota Industri Mesaieed, pada Senin (2/3).

“Di Asia, Thailand, India, Korea, dan Filipina paling rentan terhadap kenaikan harga minyak karena ketergantungan impor yang tinggi, sementara Malaysia akan menjadi penerima manfaat relatif karena merupakan eksportir energi,” kata tim analis Nomura, dalam catatan yang dikirim kepada klien, seperti dikutip CNBC.

Asia Selatan Alami Gangguan Paling Parah

Para analis memperkirakan Asia Selatan akan menghadapi gangguan paling parah, terutama dalam hal pasokan LNG. Data Kpler menunjukkan Qatar dan Uni Emirat Arab menyumbang 99% impor LNG Pakistan, 72% impor Bangladesh, dan 53% impor India.

Dengan kapasitas penyimpanan dan fleksibilitas pengadaan yang terbatas, Pakistan dan Bangladesh sangat rentan. Pertama, Bangladesh sudah mengalami defisit gas struktural yang signifikan. Menurut Institut untuk Ekonomi Energi dan Analisis Keuangan, Bangladesh mengalami kekurangan lebih dari 1.300 juta kaki kubik per hari.

“Pakistan dan Bangladesh memiliki kapasitas penyimpanan dan fleksibilitas pengadaan yang terbatas, artinya gangguan kemungkinan besar akan memicu penurunan permintaan sektor listrik secara cepat daripada penawaran spot yang agresif,” kata Go Katayama, analis utama di Kpler kepada CNBC.

India menghadapi eksposur gabungan terbesar di kawasan ini. “Lebih dari setengah impor LNG-nya terkait dengan Teluk, dan sebagian besar diindeks Brent, sehingga lonjakan harga minyak mentah yang dipicu oleh Hormuz akan secara bersamaan meningkatkan biaya impor minyak dan harga kontrak LNG. Hal ini menciptakan guncangan ganda, baik fisik maupun finansial,” katanya.

Data UBP menunjukkan sekitar 60% impor minyak India berasal dari Timur Tengah. Sebuah blokade yang berkelanjutan akan memperburuk baik biaya impor energi maupun tekanan pada neraca berjalan.

Cina Memiliki Eksposur Besar di Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz akan menguji keamanan energi Cina. Kpler mengatakan Cina adalah importir minyak mentah terbesar di dunia, dan membeli lebih dari 80% minyak Iran.

Menurut perkiraan UBP, 30% impor LNG Cina berasal dari Qatar dan UAE, dan sekitar 40% impor minyaknya dikirim melewati Hormuz.

“Cina memiliki eksposur yang signifikan tetapi lebih fleksibel,” kata Katayama dari Kpler.

Menurut Kpler, cadangan LNG Cina per akhir Februari mencapai 7,6 juta ton, sehingga memberikan perlindungan jangka pendek. Namun, Cina harus bersaing untuk mendapatkan muatan dari Atlantik jika gangguan berlanjut. Kondisi ini akan memperketat pasokan di kawasan Pasifik. Dinamika tersebut dapat memperketat persaingan harga di seluruh Asia meskipun Beijing menghindari kekurangan pasokan secara langsung.

"Arab Saudi telah meningkatkan pengiriman minyak mentah dalam beberapa pekan terakhir, dan cadangan minyak strategis yang dimiliki oleh negara-negara konsumen besar seperti Cina, dapat memberikan sedikit bantalan sementara bagi pasar," kata Rystad Energy dalam sebuah catatan, pada Minggu (1/3).

UBP mengatakan bahwa meskipun Cina merupakan importir energi bersih utama di kawasan tersebut, negara ini tidak paling rentan terhadap potensi gangguan pasokan.

Jepang dan Korea Selatan Lebih Rentan

Menurut data UBP, Timur Tengah memasok 75% impor minyak Jepang dan sekitar 70% impor minyak Korea Selatan. Untuk LNG, ketergantungan mereka pada Teluk lebih rendah dibandingkan dengan Asia Selatan. Korea Selatan mendapatkan 14% pasokan LNG-nya dari Qatar dan Uni Emirat Arab, sementara Jepang mendapatkan 6%.

Bahkan tanpa kekurangan pasokan yang nyata, dampak harga bisa sangat parah. “Ekonomi yang sangat bergantung pada impor energi seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan lebih rentan terhadap guncangan pasokan,” kata Shier Lee Lim, kepala strategi makro dan valuta asing APAC di platform pembayaran Convera, seperti dikutip CNBC.

Stok juga terbatas. Korea Selatan menyimpan sekitar 3,5 juta ton LNG dan Jepang sekitar 4,4 juta ton dalam cadangan, cukup untuk sekitar dua hingga empat minggu permintaan stabil, menurut Kpler.

Impor minyak bersih Korea Selatan mencapai 2,7% dari produk domestik bruto (PDB). Nomura menyoroti negara ini sebagai salah satu yang paling rentan dalam hal neraca perdagangan.

Asia Tenggara Terseret Inflasi

Di sebagian besar Asia Tenggara, dampak utama yang dirasakan akibat penutupan Selat Hormuz adalah inflasi biaya daripada kekurangan pasokan yang segera.

"Pembeli LNG yang bergantung pada pasokan spot akan menghadapi biaya penggantian yang jauh lebih tinggi karena Asia bersaing dengan Eropa untuk pasokan LNG dari Atlantik," kata Katayama dari Kpler.

Thailand menjadi negara yang paling terdampak oleh kenaikan harga minyak karena dampaknya besar dan segera. Negeri gajah putih ini memiliki impor minyak bersih terbesar di Asia mencapai 4,7% dari PDB. Setiap kenaikan harga minyak sebesar 10% memperburuk neraca perdagangan Thailand sekitar 0,5 poin persentase dari PDB negara tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.