Harga Minyak Melonjak, Bahlil Kebut Kewajiban Campuran Etanol 20% pada BBM
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akan mempercepat penerapan kebijakan mandatori campuran bioetanol ke bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan itu merespon respons harga minyak dunia yang meroket hingga tembus US$ 118 per barel.
Bahil mengatakan kenaikan harga minyak fosil tersebut membuat bioetanol menjadi lebih ekonomis.
“Karena kalau harga minyak fosilnya bisa melampaui US$ 100 dolar per barel, maka itu akan lebih murah kalau kita blending (campur),” ujar Bahlil ketika dijumpai di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Senin (9/3).
Bahlil sebelumnya berencana untuk mewajibkan kandungan etanol sebesar 20 persen pada bahan bakar minyak (BBM) atau E20 pada 2028 untuk mengurangi impor bensin. Kebijakan tersebut dapat diimplementasikan lebih cepat apabila melihat bagaimana dinamika geopolitik di Timur Tengah mempengaruhi negara-negara yang masih bergantung dengan energi fosil.
“Kami bikin mandatori untuk bensin dan itu lebih bersih,” ucap Bahlil.
Selain mandatori E20, Bahlil juga berencana untuk mempercepat implementasi kebijakan biodiesel 50 persen atau B50. B50 merupakan bahan bakar campuran yang terdiri atas 50 persen solar dan 50 persen bahan bakar nabati (BBN) berbasis kelapa sawit.
Saat ini, Indonesia menerapkan mandatori B40, sementara mandatori B50 masih di dalam kajian.
“Jadi, ada beberapa langkah yang akan kami lakukan. Sudah barang tentu dengan kondisi yang ada, maka pemerintah berpikir untuk mencari alternatif terbaik dalam rangka menjaga pasokan energi nasional,” kata Bahlil.
Harga Minyak Tembus US$100
Harga minyak acuan dunia mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ini terjadi seiring dengan meluasnya perang Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah.
Harga minyak Brent naik 16,4% atau US$ 15,24 menjadi US$ 107,93 per barel pada Senin pagi (9/3). Sementara Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 16,50, atau 18,2%, menjadi US$107,40 per barel.
Hal itu menyebabkan beberapa produsen minyak utama di Timur Tengah memangkas pasokan. Ketegangan ini juga memicu kekhawatiran gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang merupakan titik krusial.
Irak dan Kuwait mulai mengurangi produksi minyak serta Qatar yang makin mengurangi produksi gas alam cair (LNG). Kondisi ini terjadi sebab perang Timur Tengah telah menghambat proses pengiriman produksi migas dari kawasan tersebut.
Analis memprediksi Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga harus memangkas produksi minyak mereka dalam waktu dekat karena cadangan penyimpanan minyak mereka menipis. Perang ini dapat membuat konsumen dan bisnis di seluruh dunia menghadapi kenaikan harga bahan bakar selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Bahkan jika perang ini berakhir cepat, dampaknya tetap lama karena pemasok migas menghadapi kondisi fasilitas yang rusak, proses logistik yang terganggu, serta risiko pengiriman yang meningkat. “Saya pikir harga telah naik tajam pagi ini karena laporan produsen minyak di Timur Tengah kini mengurangi produksi akibat fasilitas penyimpanan yang cepat terisi penuh,” kata analis komoditas senior di ANZ, Daniel Hynes dikutip dari Reuters, Senin (9/3).
Produksi minyak Irak dari ladang minyak utamanya di selatan telah turun 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari. Tiga sumber mengatakan negara tersebut tidak dapat mengekspor minyak melalui Selat Hormuz akibat perang dengan Iran. “Penyimpanan minyak mentah telah mencapai kapasitas maksimum,” kata seorang pejabat dari Perusahaan Minyak Basra yang dikelola negara.