Ekonom UGM: Stok BBM Indonesia Cukup untuk Tiga Bulan
Ekonom memprediksi ketahanan minyak Indonesia masih cukup untuk tiga bulan ke depan di tengah kondisi krisis pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Fahmy Radhi, Ekonom Universitas Gadjah Mada, mengatakan Indonesia angka lifting minyak Indonesia saat ini di kisaran 600.000 barel per hari (bph). Hasil produksi ini bisa diolah oleh Pertamina dan menghasilkan produk 400.000 bph.
“Dengan asumsi tersebut dan jumlah cadangan ketahanan minyak sekitar 21 hari maka masih mencukupi kebutuhan 3 bulan. (Indonesia) berbeda dengan Filipina, India, atau Pakistan yang tidak punya cadangan minyak sama sekali,” kata Fahmy kepada Katadata, Rabu (25/3).
Meski begitu, Pasalnya, Sebab, jumlah kebutuhan BBM dalam sehari mencapai 1,2 juta bph.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut Indonesia mengimpor 25% kebutuhan minyak dari Timur Tengah. Saat ini pemerintah berencana mengalihkan porsi tersebut ke negara-negara lain yang tidak terdampak perang Timur Tengah, seperti Amerika Serikat (AS).
Kendati demikian menurut Fahmy opsi impor dari AS masih memerlukan beberapa pertimbangan. Sebab pemerintah perlu memastikan kesesuaian karakteristik minyak AS dengan kilang yang dikelola Pertamina.
“Kalau tidak cocok maka butuh biaya untuk menyesuaikan (spesifikasi) sehingga terhitung mahal. Selain itu ada faktor biaya transportasi AS-RI yang membutuhkan 45 hari perjalanan,” ujanya.
Menurut Fahmy, semakin panjang durasi pengiriman maka biaya yang dikeluarkan semakin besar. Hal ini berpotensi menambah beban APBN untuk membayar subsidi serta makin melemahkan kurs rupiah atas dolar.
“Jika kondisi ini berkelanjutan, maka krisis energi akan datang juga. Apalagi kalau inflasi tinggi dan daya beli rendah. Ini harus dijaga pemerintah,” ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo mengatakan Indonesia masih mampu bertahan dan menjalankan aktivitas 6 bulan ke depan, meskipun berada di tengah ancaman krisis energi dan kelangkaan pasokan minyak.
Perkiraan pertahanan 6 bulan ke depan jika menggunakan perhitungan asumsi harga minyak US$ 90/barel, naik 28% dari asumsi US$ 70 per barel.
Senada dengan Fahmy, Hadi juga mengatakan bahwa posisi Indonesia memang sudah mengarah ke kelangkaan pasokan.
“Ini bukan sengaja mengarah ke sana, tapi karena pilihannya sulit dan tidak banyak. Antara menaikkan harga BBM atau menaikkan pagu subsidi. Keputusan itu harus dibuat walau pahit,” katanya.
Hadi menyampaikan kondisi Indonesia dalam enam bulan ke depan masih harus melihat bagaimana perkembangan kondisi geopolitik dunia. Dia menyebut Iran saat ini kuat untuk berperang bersama AS dan Israel selama enam bulan.
“Enam bulan ini cukup membuat ekonomi dunia morat marit. Secara politik AS dan Israel akan ditekan dari segala penjuru untuk berunding, saya kami perkiraan harga akan melandai lagi,” uajr dia.
Hadi menyampaikan jika krisis energi terjadi, ada beberapa dampak yang langsung terasa. Mulai dari melebarnya defisit anggaran, pertumbuhan ekonomi terganggu, hingga penderitaan masyarakat ekonomi bawah.
Filipina Darurat Energi
Sementara itu, sejumlah negara mulai merasakan dampak pasokan BBM. Di Australia, sekitar 100 stasiun pengisian bahan bakar tidak memiliki stok bensin. Adapun di Filipina, Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. mengumumkan keadaan darurat nasional di negaranya akibat gangguan pasokan imbas perang Amerika Serikat-Israel versus Iran.
Marcos mengeluarkan perintah eksekutif (Executive Order/EO) 110 untuk mengatasi kondisi darurat energi nasional. Dalam dokumen tersebut, Pemerintah Filipina menyebut peningkatan ketegangan di Timur Tengah sebagai faktor utama yang mengancam produksi dan transportasi minyak global. Kondisi ini bisa berdampak pada Filipina yang mengimpor bersih produk minyak bumi.
Dalam perintah tersebut tertulis bahwa gangguan pada rute pasokan kritis, termasuk Selat Hormuz dapat membatasi pasokan bahan bakar global dan memicu volatilitas harga. Hal ini menimbulkan risiko terhadap keamanan energi negara. Selanjutnya, Kementerian Energi (DOE) Filipina dan lembaga terkait lainnya akan menerapkan langkah-langkah terkoordinasi untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan memadai sekaligus memitigasi dampaknya terhadap perekonomian.
“Filipina tetap sangat bergantung pada sumber pasokan bahan bakar eksternal dan rentan terhadap gangguan dalam produksi dan transportasi minyak global,” bunyi perintah tersebut, dikutip dari media resmi Filipina, Philippines News Agency, Rabu (25/3). Ketergantungan ini dapat memengaruhi ketersediaan dan pengiriman tepat waktu produk minyak bumi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. “
Menteri Energi telah menetapkan kondisi ini bisa menimbulkan bahaya yang mendesak berupa pasokan energi rendah. Langkah-langkah mendesak diperlukan untuk memastikan stabilitas dan kecukupan pasokan energi negara,” ujarnya.