Harga Minyak Makin Melambung, Brent Cetak Rekor Kenaikan Tertinggi

ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/py/am
Pemandangan di Selat Hormuz, Iran
31/3/2026, 10.35 WIB

Harga minyak acuan dunia naik pada Selasa (31/3) karena keterbatasan pasokan akibat perang Timur Tengah yang makin meluas.

Minyak acuan Brent naik $2,26, atau 2%, menjadi US$ 115,04 per barel pada pukul 00.02 GMT, setelah mencapai level tertinggi sejak 19 Maret pada sesi sebelumnya. Sementara itu minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 3,10, atau 3%, menjadi US$ 105,96 per barel, level tertinggi sejak 9 Maret. 

Penutupan akses Selat Hormuz oleh Iran telah mendorong harga Brent naik 59% sepanjang Maret, kenaikan bulanan tertinggi sepanjang masa. Lalu untuk WTI naik 58% bulan ini, tertinggi sejak Mei 2020.

Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan sejumlah besar tanker gas alam cair. Rute ini menghubungkan  produksi migas Teluk Persia ke pasar global.

Kuwait Petroleum Corp mengatakan tanker minyak mentah mereka Al Salmi terkena dugaan serangan Iran di pelabuhan Dubai.  Kapal tersebut mampu mengangkut hingga 2 juta barel. Para pejabat memperingatkan potensi tumpahan minyak di wilayah tersebut.

Pada Sabtu, pasukan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran menargetkan Israel dengan rudal, meningkatkan kekhawatiran baru atas kemungkinan gangguan di Selat Bab el-Mandeb. Sebuah jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden serta merupakan rute penting bagi kapal yang bergerak antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.

"Jika Houthi berhasil kembali memblokade Selat Bab al-Mandeb, maka dua jalur energi paling kritis di dunia akan berada di bawah tekanan secara bersamaan. Krisis 'dua titik sempit' ini adalah skenario mimpi buruk bagi rantai pasok global," kata Kepala analis pasar di KCM Trade, Tim Waterer dikutip dari Reuters, Selasa (31/3).

Menurut data Kpler, ekspor minyak mentah Arab Saudi telah dialihkan ke pelabuhan Laut Merah di Yanbu mencapai 4,658 juta barel per hari pekan lalu. Melonjak tajam dari rata-rata 770.000 barel per hari pada Januari dan Februari.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan AS akan menghancurkan fasilitas energi dan sumur minyak Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Hal ini terjadi setelah Teheran menolak proposal perdamaian AS sebagai hal tidak realistis serta serangan rudal terbaru mereka ke Israel.

Meski demikian, Gedung Putih mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlanjut dan berjalan dengan baik. Seraya menambahkan pernyataan publik Teheran berbeda dengan apa yang disampaikan kepada pejabat AS secara tertutup.

"Pasar tidak melihat adanya jalan keluar dari konflik karena kedua pihak memiliki perbedaan tuntutan yang sangat jauh, meskipun Presiden Trump menggambarkan situasi secara optimistis," kata analis Marex, Edward Meir.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani