Harga minyak acuan dunia naik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam Iran akan menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur lainnya. Hal ini dilakukan jika Iran tidak segera membuka akses Selat Hormuz.
Minyak acuan Brent naik 1,3% menjadi US$ 110,44 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate AS naik 1,4% menjadi 113,12 per barel.
Selat Hormuz merupakan rute vital pengiriman minyak produksi dari Teluk Persia ke Pasar Global. Seperlima pasokan migas dunia mengalir melalui jalur ini.
Pasar minyak dunia terguncang oleh perang ini. Kondisi tersebut memicu guncangan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kini berkembang menjadi krisis energi global. Harga minyak dan turunannya melonjak, memicu tekanan inflasi, menghambat pertumbuhan ekonomi, serta menambah beban bagi pelaku usaha dan konsumen.
Kelompok produsen minyak dan sekutunya (OPEC+) memperingatkan bahwa perang Timur Tengah ini akan berdampak panjang terhadap pasokan minyak, bahkan setelah konflik tersebut berakhir. OPEC+ menyetujui peningkatan kuota produksi minyak, di tengah aliran pasokan dari Teluk Persia yang masih terbatas.
Penguasaan atas Selat Hormuz tetap menjadi pusat konflik perang ini. Iran hanya mengizinkan sejumlah kapal kecil yang melintas di jalur tersebut. Termasuk kapal kontainer Prancis, Jepang, Malaysia, dan Pakistan.
Memasuki minggu keenam perang, kekhawatiran pasokan jangka pendek semakin tajam. Selisih harga kontrak minyak Brent melonjak lebih dari US$ 10 per barel, menjadi selisih terbesar melampaui kondisi saat perang Rusia-Ukraina.
Pada akhir periode Paskah, pasar juga menunjukkan pengetatan. Harga pengiriman minyak Brent melonjak di atas US4 140 per barel, tertinggi sejak 2008.
Investor terguncang oleh pesan Trump yang kerap berubah-ubah terkait perang ini. Mulai dari klaim perang akan segera berakhir hingga ancaman meningkatkan serangan, termasuk terhadap infrastruktur sipil. Ia juga memiliki rekam jejak menetapkan tenggat waktu yang kemudian tidak dipenuhi.
Iran sebelumnya mengumumkan potensi Irak bisa dikecualikan dari pembatasan Selat Hormuz. Kondisi ini memungkinkan adanya peningkatan pengiriman minyak ke pasar global. Kendati demikian pejabat Irak menyebut tetap berhati-hati, keputusan ekspor bergantung pada kesiapan perusahaan pelayaran untuk mengambil risiko melintasi jalur tersebut.
Sementara itu Kementerian Luar Negeri Oman menyebut saat ini mereka telah berdiskusi dengan Iran terkait opsi kepastian arus pelayaran Selat Hormuz. Kedua pihak telah mengajukan proposal untuk dipelajari.