AS-Iran Berpeluang Lanjut Dialog, Harga Minyak Turun ke Bawah US$ 100 per Barel
Harga minyak dunia turun seiring munculnya sinyal Amerika Serikat (AS) dan Iran berpeluang kembali melakukan perundingan lanjutan. Kedua negara membuka sinyal berunding kembali setelah dimulainya blokade AS di Selat Hormuz.
Harga minyak acuan Brent turun 2,1% menjadi US$ 97,24 per barel, sementara minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) harganya turun 2,3% menjadi US$ 96,84 per barel.
Kedua negara saat ini berpotensi menggelar kembali pertemuan tatap muka guna mencapai periode gencatan senjata yang lebih panjang. Targetnya perundingan dilakukan sebelum jeda dua pekan gencatan berakhir bulan ini.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan Teheran telah menghubungi pihaknya. “Pagi ini kami dihubungi oleh pihak yang tepat, dan mereka ingin membuat kesepakatan,” kata Trump dikutip dari Bloomberg, Selasa (14/4).
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya siap melanjutkan pembicaraan damai, namun hanya dalam kerangka hukum dan regulasi internasional.
Pasar minyak terguncang oleh perang antara AS, Israel, dan Iran yang sudah berlangsung sejak akhir Februari. Konflik tersebut memicu guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, kondisi ini terjadi setelah infrastruktur energi diserang dan Iran membatasi lalu lintas di Selat Hormuz.
Pada Senin (13/4), AS meningkatkan tekanan dalam perang dengan memberlakukan blokade terhadap kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran di Teluk Persia maupun wilayah pesisirnya.
Arab Saudi juga dilaporkan mendesak AS untuk mencabut blokade di selat tersebut dan kembali ke meja perundingan. Dorongan ini muncul di tengah kekhawatiran langkah Trump dapat mendorong Iran mengganggu jalur pelayaran penting lainnya.
Kepala riset komoditas dan karbon di Westpac Banking Corp Robert Rennie mengatakan peluang perundingan lanjutan ini diperkirakan akan menahan kenaikan tajam harga minyak Brent dan WTI.
“Meski sinyal diplomatik dapat menahan harga acuan di sekitar atau di bawah US$ 100, tekanan pada pasokan semakin meningkat, dan harga bahan bakar di ekonomi riil kemungkinan tetap tertekan naik selama arus melalui Hormuz masih terbatas,” ujarnya.
Harga bensin dan solar di tingkat ritel di AS sempat naik ke level tertinggi sejak 2022 pada awal bulan ini. Sementara itu, harga bahan bakar jet dan solar di Eropa melonjak ke rekor tertinggi atau mendekati rekor, melampaui US$ 200 per barel.
Wakil Presiden JD Vance mengatakan blokade terhadap minyak Iran meningkatkan posisi tawar AS dalam negosiasi. “Saya pikir kita sudah berada pada titik di mana tujuan kita tercapai. Kita bisa mulai meredakan situasi ini.” kata Vance
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz kembali menurun seiring meningkatnya kehati-hatian menjelang penerapan blokade AS. Meski begitu, tiga kapal tanker berhasil melintasi jalur tersebut.
“Iran bukan satu-satunya pihak yang terdampak, blokade juga akan memperburuk tekanan pada harga energi dan merugikan perekonomian global,” kata Peneliti senior Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies Will Todman.
Badan Energi Internasional (IEA) dalam waktu dekat dijadwalkan merilis laporan pasar bulanan yang akan memberikan gambaran terbaru mengenai dinamika pasokan dan permintaan. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan harga minyak belum sepenuhnya mencerminkan tingkat keparahan krisis pasokan, namun hal itu akan segera terjadi.
Perang tersebut memaksa penghentian produksi dalam skala besar di Timur Tengah. Produksi minyak OPEC tercatat anjlok ke level terendah dalam sejarah bulan lalu, seiring konflik yang menekan ekspor dari negara-negara anggota utama.