Meleset dari Target, Impor Minyak Rusia Masih dalam Proses

123rf.com
Ilustrasi energi / minyak Rusia
4/5/2026, 18.01 WIB

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan rencana impor minyak mentah (crude) dari Rusia masih dalam proses penyelesaian. Dia menyebut barang tersebut belum dikirim ke Indonesia.

“Masih dalam proses. Enggak (belum dikirim), karena ada tahapan dengan badan usaha, seperti kerja sama,” kata Yuliot saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Senin (4/5).

Dia menyebut jika impor crude tersebut sudah memasuki tahap pengiriman dan rincian realisasi akan disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Selain rencana impor crude, Yuliot juga menyampaikan terkait potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis gasoline seperti Pertamax.

“Saat ini BPH Migas masih melakukan asesmen,” ujarnya.

Saat ini harga BBM non-subsidi jenis gasoline baik di Pertamina maupun badan usaha swasta belum mengalami perubahan harga sejak 1 Maret 2026. Meski begitu, hal serupa tidak terjadi pada jenis BBM Diesel non-subsidi di Pertamina dan SPBU swasta yang mulai naik sejak pertengahan April 2026.

Yuliot menuturkan, impor dari Rusia nanti tak hanya diserap Pertamina, namun juga diperuntukkan bagi industri, bahan baku petrokimia, dan kegiatan pertambangan. Impor itu dipatok mengikuti harga pasar.

Dia mengatakan, kebutuhan konsumsi minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari (bph). Dari jumlah tersebut, 600 ribu bph dipenuhi dari produksi domestik, sedangkan sisanya 1 juta bph dari impor. Jika dihitung hingga akhir 2026 maka masih tersisa 251 hari.

Dengan kata lain, Indonesia masih membutuhkan impor 251 juta barel. Dari jumlah tersebut, 150 juta barel didapatkan dari Rusia.

“Ini bisa dikalkulasikan masih kurang, kami saat ini juga mencari tambahan dari negara lain termasuk Amerika Serikat,” ucapnya.

Selain minyak mentah, Indonesia juga berpotensi mendapatkan pasokan liquified petroleum gas (LPG) alias elpiji dari Rusia. Namun untuk yang ini belum ada perincian volumenya.

Target Dikirim April 2026

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, sebelumnya mengatakan minyak mentah impor dari Rusia kemungkinan dikirim ke Indonesia mulai April 2026. Dia menyebut pemerintah memang menargetkan agar komoditas tersebut bisa tiba secepatnya. 

“Insyaallah kalau untuk crude mungkin bisa (dikirim) bulan ini,” kata Bahlil saat ditemui di kantornya, Jumat (17/4).

Dia menuturkan, Indonesia mengejar impor dari Rusia lantaran kondisi geopolitik dunia yang tidak menentu. “Kita tidak bisa mengharapkan (pasokan) hanya dari satu negara, harus ada diversifikasi. Insyaallah (stok) crude kita akan semakin baik,” ujarnya.

Pemerintah mengklaim Indonesia telah mengamankan komitmen impor minyak mentah atau crude dari Rusia dengan volume mencapai 150 juta barel. Kesepakatan impor itu didapatkan saat pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin di Moskow, beberapa waktu lalu.

“Negosiasi kemarin sudah disepakati total impor crude dari Rusia 150 juta barel, untuk mencukupi kebutuhan kita sampai akhir tahun,” kata Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4).

Dia mengatakan, skema impor ini dilakukan bertahap, bukan sekaligus. Pasalnya, pelaksanaannya memerlukan kapasitas penyimpanan dalam negeri yang besar. Yuliot menyampaikan, pemerintah bersama badan usaha saat ini sedang mempersiapkan regulasi dan mekanisme impor crude Rusia tersebut. Regulasi itu akan mengatur apakah impor dilakukan langsung oleh BUMN atau Badan Layanan Umum (BLU).

Menurutnya, dua opsi itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika impor melalui BUMN, akan ada konsekuensi, dan; jika dilakukan BLU ada kemudahan termasuk terkait pembiayaan.

“Kalau BUMN kan sudah ada kontrak dengan pihak lain untuk pemenuhan dalam negeri. Di BUMN juga harus melalui tender, (tapi impor ini) skemanya G2G,” ujarnya.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani