RI Masih Punya 50 Cekungan Migas Belum Dieksplorasi, Apa Hambatannya?

Zukiman Mohamad/Pexels
Ilustrasi kilang minyak lepas pantai
12/5/2026, 15.31 WIB

Direktur Eksekutif Indonesia Petroleum Association Marjolijn Wajong mengatakan Indonesia memiliki potensi minyak dan gas bumi (migas) yang besar meski eksplorasi telah dilakukan sejak lebih dari satu abad lalu. Industri migas mencatat masih terdapat sekitar 50 cekungan migas yang belum dieksplorasi dan dinilai menyimpan potensi sumber daya energi baru.

Menurut dia, sebagian besar cekungan tersebut berada di wilayah dengan tantangan teknis dan infrastruktur yang tidak mudah sehingga membutuhkan investasi besar serta dukungan kebijakan yang konsisten.

“Walaupun kita sudah mulai dari 100 tahun yang lalu kali ya, tetapi potensinya masih besar, ditandai ada 50 cekungan di seluruh Indonesia yang belum dieksplorasi,” ujar Marjolijn dalam Media Conference - IPA, di Jakarta Selatan, Selasa (12/5).

Menurut dia, cekungan-cekungan tersebut berada di kawasan laut dalam, wilayah timur Indonesia yang infrastrukturnya masih terbatas, maupun daerah dengan tingkat kesulitan teknis tinggi.

“Jadi memerlukan teknologi dan biaya yang besar,” katanya.

Kondisi itu membuat eksplorasi migas membutuhkan pendekatan yang lebih agresif dan masif dibandingkan sebelumnya. Karena itu, pemerintah dinilainya perlu menciptakan kebijakan yang mampu menarik lebih banyak investasi ke sektor hulu migas.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KemenESDM) mencatat, dari total 128 cekungan migas yang ada di Indonesia, sebanyak 68 cekungan atau 53% belum pernah dieksplorasi sama sekali. Dari lokasi tersebut, menyimpan potensi cadangan minyak sebesar 2,41 miliar barel dengan masa produksi 11 tahun.  

Marjolijn menegaskan eksplorasi migas harus dilakukan secara besar-besaran agar potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi produksi baru di masa depan.

“Nah, ini intinya, eksplorasi yang secara besar-besaran, aktif, masif. Jadi bukan cuma sedikit-sedikit, tapi harus aktif dan masif. Jadi jelas memerlukan investasi yang besar,” ucapnya.

Investor Migas Bandingkan Iklim Investasi Antarnegara

Indonesia perlu meningkatkan daya saing dalam menarik investor untuk menanamkan modal di dalam negeri. Menurutnya, investor migas global selalu membandingkan iklim investasi antarnegara sebelum memutuskan menanamkan modalnya. 

“Kita semua udah tahu ya bahwa investor di bidang minyak dan gas itu selalu membandingkan iklim investasi di satu negara dan negara lain, terus dia milih yang mana yang paling menguntungkan,” katanya.

Ia menambahkan, Indonesia sebenarnya masih memiliki potensi geologi yang besar. Namun, terdapat sejumlah regulasi dan aspek kebijakan yang dinilai perlu diperbaiki untuk meningkatkan daya tarik investasi.

Menurut dia, investor cenderung memilih negara yang menawarkan kemudahan investasi dan tingkat keuntungan yang lebih kompetitif.

Tantangan ini disebutnya akan dieksplorasi melalui berbagai cara, salah satunya dengan pendekatan diskusi dan forum strategis melakui IPA Convex 2026. Gelaran acara ini diselenggarakan mulai dari tanggal 20 hingga 22 Mei 2026. 

Ia menjelaskan, IPA Convex 2026 akan menghadirkan lebih dari 200 exhibitor dan lebih dari 200 technical presentation yang mencakup berbagai isu strategis di sektor energi, mulai dari eksplorasi, teknologi, transisi energi, hingga investasi hulu migas. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina