Produksi Minyak Indonesia hanya Mencapai 576 Ribu Bph per 31 Mei 2026
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat realisasi produksi minyak Indonesia hanya mencapai 576,2 ribu barel per hari (bph) pada 31 Mei 2026.
Jumlah ini terdiri atas produksi minyak 491,2 ribu bph, kondensat 55,8 ribu bph, dan natural gas liquid 29,1 ribu bph. Secara total, angka ini hanya mencapai 94,46% dari target produksi yang ditetapkan 610 ribu bph.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan penurunan angka produksi minyak ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena terjadinya kebocoran pipa TGI yang berdampak pada operasional tujuh perusahaan migas yang sempat terhenti.
“Kita lihat grafik ini, (produksi) Januari sangat rendah (528 ribu bph) karena terjadi pipa putus,” kata Djoko dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, dipantau melalui siaran TV Parlemen, Rabu (2/6).
Setelah masalah pipa teratasi, angka produksi minyak kemudian naik di kisaran 580-590 ribu bph pada Februari dan Maret lalu. Kendati demikian, angka produksi minyak kembali turun menjadi 570 ribu bph imbas masalah kelistrikan di Blok Rokan, serta penurunan produksi di Lapangan Banyu Urip yang dikelola ExxonMobil.
“Dua blok tersebut merupakan penopang terbesar produksi nasional kita,” ujarnya.
Guna mencapai target produksi minyak 610 ribu bph, SKK Migas akan menambal kekurangan dengan tambahan 5.000 bph hingga akhir tahun nanti. Pemerintah juga akan melakukan optimalisasi produksi minyak dari sumur masyarakat yang diatur dalam Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025.
Saat ini sudah ada sembilan operasi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) yang menyumbang produksi minyak dari sumur masyarakat. “Produksinya sampai hari ini sudah meningkat mencapai 1.500 bph, target potensinya sebesar 20.000 bph,” ucapnya.
Tambahan Produksi Minyak dari 617 Sumur Pengembangan
Tambahan produksi juga akan diupayakan melalui pengeboran 617 sumur pengembangan. Djoko menargetkan setiap sumur ini rata-rata akan memproduksi 100 bph, sehingga hingga akhir tahun diharapkan ada tambahan produksi minyak 61,7 ribu bph sejak pertengahan tahun.
Meski masih di bawah target, namun Djoko memproyeksi jumlah produksi minyak pada akhir 2026 dapat mencapai 600-610 ribu bph. Dia juga memprediksi pada tahun depan angka produksi minyak bisa menyentuh angka 610-615 ribu bph.
“Untuk 2027, kami cukup optimis di antara 610-615 ribu bph atau sekitar tengah-tengahnya 612.500 bph. Dari kegiatan existing, kita masih mempertahankan produksi lapangan existing sebesar 491.000 bph,” katanya.
Produksi Gas
Tak hanya minyak, dalam kesempatan tersebut Djoko juga menyebut jumlah produksi gas bumi mencapai 6.550 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd) dan salur gas sebesar 5.207 mmscfd per 31 Mei 2026. Jumlah produksi gas ini baru mencapai 94% target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
“Untuk gas, alhamdulillah tadi sudah saya sampaikan saat ini sudah mencapai 94,5% atau 95%. Kita masih ada tujuh bulan ke depan yang insyaallah bisa mencapai target APBN,” kata Djoko.