Harga Minyak Turun ke Bawah US$ 80 per Barel, Seiring Kesepakatan Damai AS-Iran
Harga minyak dunia turun menuju level terendah dalam tiga bulan terakhir. Hal ini terjadi imbas adanya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mendorong ekspektasi pasar akan terbukanya kembali akses Selat Hormuz.
Jika kondisi tersebut terjadi, hal itu akan memicu masuknya gelombang pasokan minyak baru ke pasar.
Pagi ini, harga minyak Brent mencapai US$ 79,49 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) bertengger di angka US$ 76,61 per barel. Bloomberg mencatat, harga Brent telah anjlok 15% dalam empat hari terakhir.
Penurunan itu tak luput dari hasil kesepakatan damai yang dicapai oleh kedua negara dan dijadwalkan diteken pada Jumat (19/6) lusa. AS bahkan menawarkan berbagai insentif finansial bagi Teheran, termasuk hak untuk segera menjual minyaknya.
Kesepakatan dua negara itu dilihat sebagai peluang untuk meredakan ketatnya pasar energi global. Produsen, perusahaan pelayaran, dan pedagang kini menilai apakah kesepakatan tersebut akan bertahan lama, serta berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga lalu lintas kapal melalui jalur sempit Selat Hormuz dapat kembali pulih secara signifikan.
“Sebagian besar trader masih meyakini bahwa operasi Angkatan Laut AS kemungkinan akan melakukan pengawalan selama beberapa minggu pertama, dan kapal penyapu ranjau juga akan dikerahkan, yang akan memperlambat arus lalu lintas kapal,” ujar Senior Vice President Trading di BOK Financial Securities Inc, Dennis Kissler, dikutip dari Bloomberg, Rabu (17/6).
Perincian teknis kesepakatan dua negara masih dalam tahap finalisasi dan beberapa bahasa dalam dokumen masih dapat berubah. Kendati demikian, rancangan nota kesepahaman berisi 14 poin tersebut memberikan gambaran paling jelas yang akan membuka jalan bagi pembicaraan selama 60 hari, untuk secara resmi mengakhiri perang serta menerapkan batasan baru yang ketat terhadap program nuklir Iran.
Salah satu poin dalam kesepakatan itu mengharuskan Teheran menjamin kelancaran pergerakan kapal dagang, sementara AS diwajibkan mencabut blokadenya di Selat Hormuz. Jalur perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia itu biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Kesepakatan itu juga mencakup komitmen Washington untuk menerbitkan pengecualian (waiver) bagi ekspor minyak mentah Iran, produk petrokimia, serta turunannya, termasuk seluruh layanan terkait seperti perbankan, asuransi, dan transportasi.
Kemerosotan harga minyak mentah juga turut menekan harga produk turunannya, sehingga membantu meredakan tekanan inflasi dan beban konsumen. Di AS, rata-rata harga bensin nasional telah turun kembali mendekati US$ 4 per galon meski sempat mencapai lebih dari US$ 4,56 per galon pada Mei.
Dampak perubahan biaya energi akan menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh Federal Reserve (The Fed) ketika para pembuat kebijakan bertemu untuk memutuskan suku bunga. Dalam pertemuan kali ini, tidak ada perubahan biaya pinjaman yang diperkirakan akan diumumkan.
Meskipun kebangkitan pasokan secara luas diperkirakan akan terjadi, persediaan minyak mentah masih terus mengalami penurunan dengan laju yang cepat. Sebuah kelompok industri di AS memperkirakan persediaan minyak negara itu menyusut 8,3 juta barel pada pekan lalu, termasuk penurunan besar di pusat penyimpanan utama di Cushing, Oklahoma.