Harga Minyak Turun Menuju US$ 70 per Barel Setelah Pelayaran di Hormuz Lancar
Harga minyak acuan dunia terus turun, menuju US$ 70 per barel. Hal ini terjadi di tengah lancarnya arus pelayaran Selat Hormuz, serta potensi peningkatan pasokan yang diungkapkan oleh organisasi pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+). Kondisi ini memicu kekhawatiran terjadinya kelebihan pasokan di pasar.
Harga Brent turun 0,6% menjadi US$ 71,67 per barel pada pukul 08.36 waktu Singapura. Pada awal Juli, harga Brent sempat menyentuh US$ 70,14 per barel, yang merupakan level terendah sejak Februari.
Adapun harga minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di US$ 68,34 per barel. Turun 0,5% dibanding penutupan Kamis lalu.
Harga minyak Brent anjlok 30% sepanjang kuartal II setelah Washington dan Teheran mencapai kesepakatan damai sementara. Hal ini membuka jalan bagi pemulihan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, meski belum sepenuhnya normal.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah bank investasi di Wall Street memperkirakan harga minyak masih berpotensi terus melemah pada paruh kedua tahun ini. Citigroup Inc. bahkan memperkirakan harga minyak dapat kembali ke kisaran US$ 60 per barel pada akhir tahun.
Saat ini akses pengiriman migas melalui Selat Hormuz, khususnya di wilayah yang dilindungi Amerika Serikat (AS) kian pulih. Hal ini terjadi sehari usai sejumlah kapal melakukan putar balik dan pengalihan rute tanpa penjelasan di jalur strategis tersebut.
Di saat yang sama, negara anggota OPEC+ menyetujui kenaikan kuota produksi minyak dalam jumlah terbatas untuk bulan depan. Tujuh negara yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia sepakat menambah produksi sebesar 188.000 barel per hari. Hal ini merupakan bagian dari kelanjutan pencabutan kebijakan pemangkasan produksi yang diberlakukan beberapa tahun lalu.
Untuk saat ini, tambahan pasokan tersebut masih bersifat teoritis, namun keputusan itu mencerminkan keinginan OPEC+ untuk meningkatkan produksi seiring kondisi kawasan yang terus membaik.
Analis RBC Capital Markets LLC, termasuk Helima Croft, menyatakan bahwa negara-negara anggota OPEC yang terdampak perang kini tengah berupaya memulihkan produksi dan ekspor minyak mereka. Namun demikian, mereka menilai hanya ada sedikit keinginan dari para produsen untuk memicu jatuhnya harga akibat lonjakan pasokan.
Produsen utama di kawasan Teluk Persia juga terus meningkatkan produksi dengan cepat. Arab Saudi misalnya, telah meningkatkan ekspor minyaknya hingga mendekati level sebelum perang, seiring kelancaran pengiriman tanker melalui Selat Hormuz. Sementara itu, Uni Emirat Arab, yang keluar dari OPEC selama konflik berlangsung, juga telah memulihkan arus ekspornya.
Para pelaku pasar pekan ini akan mencermati pengumuman harga jual resmi (official selling prices/OSP) dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan produsen lainnya, sebagai bagian dari upaya mereka mengembalikan lebih banyak pasokan ke pasar. Untuk pengiriman Juli, Riyadh memangkas premi minyak mentah utamanya ke pasar Asia menjadi US$ 9,50 per barel, dari sebelumnya US$ 15,50 per barel pada Juni.