Pemerintah Masih Butuh 4 Pabrik Biodiesel Lagi untuk Dukung B50

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/bay/kye
Sejumlah dispenser pengisian Biosolar B50 berjajar di Rest Area KM 57 Tol Jakarta–Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Program B50 yang mewajibkan pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional, serta memperkuat ketahanan ekonomi dan energi Indonesia.
13/7/2026, 15.34 WIB

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan pemerintah masih membutuhkan 4 pabrik lagi untuk mendukung program implementasi biodiesel 50% atau B50. Indonesia sebelumnya telah resmi mengimplementasikan B50 pada Kamis (9/7). 

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang diproduksi dari minyak nabati maupun hewani dan dapat digunakan sebagai pengganti sebagian solar pada mesin diesel. Program B50 mewajibkan pencampuran biodiesel sebesar 50% ke dalam bahan bakar minyak jenis solar. 

“Saya harapkan sekarang tumbuhnya pabrik, kami masih perlu sekitar 4 pabrik dengan skala 500 ribu kilo liter,” kata Eniya dalam Podcast Kementerian ESDM, dikutip Senin (13/7).

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, Indonesia saat ini memiliki stok tambahan sekitar 4 juta ton sawit. Pabrik-pabrik ini diharapkan dapat mengelola stok tambahan tersebut.

Dia menyebut dibutuhkan waktu satu setengah tahun untuk membangun pabrik tersebut. Selain faktor tambahan stok, menurutnya pembangunan juga dibutuhkan untuk memaksimalkan kapasitas terinstal pabrik-pabrik di Indonesia.

“Kapasitas terinstall pabrik biodiesel saat ini 22 juta kilo liter, saat ini yang baru terpakai sekitar 80%,” ujarnya.

Indonesia telah memulai pengembangan biodiesel sejak riset pada 2003. Eniya menyebut kala itu pemerintah menggali seluruh potensi bahan baku biodiesel dari seluruh tanaman. Sawit kemudian dipilih sebagai bahan baku karena biayanya paling murah, perawatan mudah, dan pertumbuhannya cepat.

Pada 2005 Indonesia mulai mengimplementasi biodiesel dengan kadar 1%, hal ini juga dilakukan bersamaan dengan negara-negara lainnya.

“Waktu itu negara lain juga sama-sama mencoba 1%. Tapi kita sangat agresif (mengembangkan) karena didukung oleh lahan luas yang dimiliki,” ucapnya.

Bangun Pabrik Metanol

Selain butuh pabrik biodiesel, pemerintah juga berencana membangun dua pabrik metanol di Indonesia. Metanol merupakan salah satu bahan yang dibutuhkan untuk produksi biodiesel.

“Kami akan segera membangun industri metanol di Jawa Timur yang akan di-groundbreaking bulan ini. Kemudian ada juga di Kalimantan Timur,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat ditemui usai peluncuran B50 di Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7).

Pabrik metanol di Bojonegoro, Jawa Timur menjadikan gas sebagai bahan baku, sementara pabrik yang ada di Kalimantan Timur akan menggunakan hilirisasi batu bara sebagai bahan bakunya. Dia menyebut pembangunan pabrik ini harus segera dilakukan karena ketersediaan metanol menjadi salah satu tantangan implementasi B50.

“Munculnya B50 membuat kebutuhan metanol naik, jumlahnya sekitar 2,5 juta ton per tahun,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani