Dari Medan hingga Palembang, Pertamina Tempuh Beragam Strategi Atasi Antrean BBM
PT Pertamina Patra Niaga menempuh berbagai strategi untuk mengatasi antrean pengisian bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Sumatera, mulai dari Medan, Bengkulu, hingga Palembang. Langkah yang dilakukan mencakup penguatan distribusi, penambahan pasokan, pengaturan operasional SPBU, hingga pengetatan pengawasan penyaluran BBM subsidi.
Di Sumatera Utara, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara mengoptimalkan distribusi BBM di Kota Medan dan sekitarnya. Pertamina mengoperasikan Integrated Terminal Medan Group selama 24 jam.
Perusahaan juga menambah armada mobil tangki melalui skema spot charter, memperkuat personel Awak Mobil Tangki (AMT), serta mengoptimalkan suplai dari Fuel Terminal Kisaran, Fuel Terminal Siantar, dan Integrated Terminal Lhokseumawe.
Langkah itu diperkuat melalui sinergi bersama BPH Migas, TNI, Polri, pemerintah daerah, Hiswana Migas, pengusaha SPBU, serta mitra transportir agar distribusi BBM berlangsung lebih cepat dan efektif.
Selain itu, Pertamina terus memantau stok dan penyaluran di seluruh SPBU. Jika terjadi peningkatan kebutuhan di suatu wilayah, penyesuaian pasokan dilakukan melalui skema Reguler Alternatif Emergency (RAE) untuk menjaga ketersediaan BBM.
"Antrean di sejumlah SPBU mulai kembali normal sebagai hasil dari berbagai upaya percepatan distribusi yang kami lakukan bersama seluruh pemangku kepentingan. Kami akan terus mengoptimalkan operasional hingga pelayanan kepada masyarakat kembali normal sepenuhnya," ujar Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw dalam keterangan pers, Sabtu (18/7).
Pengemudi ojek online (ojol) di Kota Medan, Samsuri, 60 tahun mengatakan antrean pengisian BBM yang sebelumnya sempat terjadi kini sudah jauh berkurang.
"Antrean sudah berkurang dan pengisian BBM juga lebih lancar. Saya merasakan sendiri," katanya.
Di Bengkulu, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) mengoptimalkan penyaluran Biosolar melalui penambahan alokasi di SPBU yang mengalami peningkatan konsumsi.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Rusminto Wahyudi mengatakan, perusahaan menambah alokasi di SPBU yang mengalami peningkatan konsumsi, percepatan suplai ke Fuel Terminal Pulau Baai, hingga pengaturan antrean oleh petugas marshal agar proses pelayanan berlangsung lebih tertib dan optimal.
Penyaluran Biosolar di SPBU 21.391.11 Kabupaten Kepahiang ditingkatkan menjadi 16 kiloliter per hari. Pertamina juga terus mengevaluasi kebutuhan di setiap SPBU agar penyesuaian penyaluran dapat dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan pemerataan pasokan.
Perusahaan juga mengantisipasi perubahan pola konsumsi akibat pengaturan penyaluran BBM di sejumlah daerah yang berbatasan dengan Provinsi Bengkulu, sehingga distribusi terus disesuaikan berdasarkan perkembangan kebutuhan di lapangan.
Di sisi pengawasan, Pertamina memperketat penyaluran Biosolar subsidi melalui verifikasi transaksi menggunakan QR Code Subsidi Tepat, pencocokan nomor polisi kendaraan, serta pemantauan transaksi yang terindikasi tidak sesuai ketentuan.
Kendaraan yang terbukti melakukan penyalahgunaan atau pelangsiran akan dimasukkan ke dalam negative list, sehingga tidak dapat kembali melakukan transaksi Biosolar subsidi.
Sementara itu di Sumatera Selatan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel mengubah pola operasional SPBU untuk memperlancar distribusi Biosolar. Sebanyak 13 SPBU di Kota Palembang dan sekitarnya kini beroperasi selama 24 jam sebagai tindak lanjut Surat Edaran Gubernur Sumsel terkait optimalisasi pelayanan dan kelancaran distribusi BBM.
Selain itu, delapan SPBU lainnya menerapkan penyesuaian operasional pada pukul 21.00 hingga 05.00 WIB.
Menurut Rusminto, penyesuaian operasional bertujuan mengurai antrean kendaraan, meningkatkan akses pelayanan masyarakat, sekaligus menjaga kelancaran distribusi Biosolar di wilayah Sumatera Selatan.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, kondisi distribusi BBM, khususnya Biosolar, mulai berangsur membaik. Antrean kendaraan di sejumlah SPBU juga mulai berkurang seiring optimalisasi penyaluran, pengaturan operasional SPBU, serta penguatan pengawasan terhadap distribusi BBM subsidi.
Pertamina menyatakan terus memastikan stok BBM tetap aman di seluruh terminal BBM dan SPBU, memantau pola konsumsi masyarakat, mengoptimalkan suplai ke SPBU dengan kebutuhan tinggi, serta memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, pemerintah kabupaten/kota, aparat penegak hukum, BPH Migas, dan Hiswana Migas.
Masyarakat diimbau menggunakan BBM sesuai spesifikasi kendaraan dan memanfaatkan BBM subsidi sesuai ketentuan. Pertamina juga meminta masyarakat melaporkan dugaan penyalahgunaan penyaluran BBM subsidi kepada aparat setempat atau melalui Pertamina Contact Center 135 agar dapat segera ditindaklanjuti.