Harga minyak acuan dunia terus turun. Hal ini bahkan terjadi saat Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan militer baru ke sejumlah target di Iran.

Komando Pusat Militer AS (Central Command) menyatakan pasukan Amerika memulai aksi sebagai respons kuat atas upaya serangan Iran terhadap personel militer AS. Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Republik Islam Iran akan menerima serangan besar setelah insiden yang menargetkan personel AS di Yordania.

Harga minyak Brent turun 0,8% menjadi US$ 90,02 per barel pada pukul 08.37 waktu Singapura. Sementara itu harga West Texas Intermediate turun 0,4% menjadi US$ 84,13 per barel.

Pasar energi dunia kembali mengalami gejolak volatilitas bulan ini. Kondisi tersebut dialami seiring terjadinya jeda peperangan antara Iran dan AS yang berlanjut dengan memanasnya konflik. 

Ketegangan kini meluas, dengan pemberontak Houthi di Yaman mengancam memblokade Arab Saudi, sementara pasukan Riyadh bergabung dengan AS menyerang balik target-target di Irak.

"Pasar terlalu cepat bereaksi terhadap harapan tercapainya perdamaian baru, terutama mengingat Iran tetap bersikeras menguasai Selat Hormuz dalam skema kesepakatan apa pun,” kata Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek, dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/7).

Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Selat ini menjadi pusat perselisihan antara AS dan Iran. 

Teheran bersikeras mempertahankan kendali atas jalur tersebut dan menyerang kapal tanker yang dianggap menentang otoritasnya. Untuk menghindari jalur itu, Arab Saudi mengalihkan pengiriman minyak melalui pipa East-West yang terhubung ke Laut Merah. Namun, jalur alternatif tersebut kini juga menghadapi ancaman dari kelompok Houthi yang didukung Iran.

Pelaku pasar juga mencermati potensi dampak terhadap keamanan pelayaran dan arus energi setelah dua kapal dihantam proyektil di Pelabuhan Damietta, Mesir, yang berada di pesisir Laut Mediterania. Dua kapal pengangkut gas alam cair (LNG) terbakar akibat serangan tersebut, meski asal serangan masih belum diketahui.

Menurut Menteri Energi AS Chris Wright, sekitar 13 juta barel minyak per hari keluar dari Teluk Persia sepanjang pekan lalu. Separuhnya dikirim melalui Selat Hormuz, sedangkan sisanya dialirkan melalui jaringan pipa alternatif.

Di tengah memanasnya perang Timur Tengah, persediaan minyak mentah komersial AS turun ke level terendah sejak 2018. Hal ini memperkuat sinyal bahwa pasar fisik semakin ketat setelah berbulan-bulan konflik di Timur Tengah. 

Sementara itu, cadangan minyak dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) juga menyusut untuk pekan ke-18 berturut-turut ke level terendah sejak 1983.

"Persediaan mungkin bukan fokus utama di tengah narasi geopolitik yang lebih besar, tetapi penurunan stok minyak mentah yang lebih besar dari perkiraan, serta persediaan komersial yang mendekati level 400 juta barel, kemungkinan akan semakin menarik perhatian pasar," kata pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Group Rebecca Babin.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani