Airlangga: Harga Pertalite Aman hingga Desember 2026, APBN Jadi Peredam Kejut

ANTARA FOTO/Akramul Muslim/tom.
Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite bersubsidi ke tangki sepeda motor di SPBU Batoh, Banda Aceh, Aceh, Selasa (4/8/2026). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan sekitar 80 persen konsumsi BBM nasional masih didominasi BBM bersubsidi, sedangkan sekitar 20 persen menggunakan BBM nonsubsidi, dan pemerintah juga memastikan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi untuk menjaga daya beli masyarakat.
5/8/2026, 23.25 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memastikan harga Pertalite tetap aman hingga Desember 2026. Pemerintah, kata dia, memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai shock absorber (peredam kejut) untuk menjaga stabilitas harga energi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Arahan Bapak Presiden juga di tengah ketidakpastian daripada perang di Selat Hormuz, BBM tetap kita jaga resiliensinya di mana APBN sebagai shock absorber,” kata Airlangga dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).

Menurut Airlangga, kebijakan pencampuran biodiesel B50 turut memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan implementasi B50, kata dia, Indonesia tidak lagi bergantung pada impor solar sehingga tekanan terhadap subsidi energi juga berkurang.

“Dengan diterapkannya B50 maka kita tidak lagi impor solar dan sebetulnya dengan harga sekarang juga relatif pemanfaatan subsidi relatif kecil untuk B50,” katanya.

Ia menegaskan, pemerintah telah menyiapkan ruang fiskal agar harga Pertalite tidak mengalami perubahan hingga akhir 2026

“Untuk Pertalite dijamin harga sampai bulan Desember (2026) aman, jadi ini sudah masuk dalam buffer,” kata Airlangga.

Airlangga mengatakan, selain menjaga stabilitas harga BBM, pemerintah juga terus memantau kondisi perekonomian nasional. Airlangga menyebut APBN tetap difungsikan sebagai instrumen penyangga untuk meredam dampak gejolak eksternal terhadap daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi.

Dalam kesempatan yang sama, Airlangga menegaskan pemerintah tetap optimistis momentum pertumbuhan ekonomi dapat dipertahankan hingga akhir 2026. Optimisme tersebut ditopang oleh investasi, belanja pemerintah, konsumsi masyarakat, serta kinerja ekspor dan impor yang diharapkan terus membaik pada semester II tahun ini.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman