Kesepakatan Iran-Oman Soal Selat Hormuz Belum Tercapai, Harga Minyak Naik

Reuters
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, pada 11 Maret 2026.
10/8/2026, 09.41 WIB

Harga minyak acuan dunia kembali naik hari ini usai Iran dan Oman masih belum mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Hal ini terjadi bersamaan dengan kelompok militan Houthi yang mengklaim telah menyerang kilang minyak Arab Saudi di dekat Laut Merah.

Harga minyak Brent naik 1,2% menjadi US$ 84,54 per barel pada pukul 10.05 waktu Singapura. Sementara minyak West Texas Intermediate naik 0,9% menjadi US$ 78,90 per barel.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada akhir pekan mengatakan kesepakatan dengan Oman untuk membentuk rute pelayaran melalui Selat Hormuz sudah hampir tercapai.

Kendati demikian, dia menutup kemungkinan dilakukannya pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat untuk saat ini karena menurutnya ad pelanggaran terhadap kesepakatan damai sementara.

Meski begitu, Araghchi memperingatkan bahwa kesepakatan apa pun tidak akan langsung membuka kembali jalur perairan tersebut. Hal ini meredam harapan arus energi yang terganggu dapat segera kembali normal.

Sebelum perang terjadi, sekitar seperlima minyak dan gas alam dunia dikirim melalui Selat Hormuz menuju pasar global. Pasar sejauh ini terhindar dari krisis pasokan yang ekstrem karena sejumlah faktor, termasuk lemahnya permintaan dari Cina dan pelepasan cadangan minyak darurat. Namun, bantalan pasokan global kini telah menipis.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengisyaratkan sikap yang lebih bersahabat. Trump mengatakan AS kini mengambil pendekatan “low-key” atau tidak terlalu agresif kepada Teheran.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah berminggu-minggu Trump mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, sebelum akhirnya menarik kembali ancaman tersebut.

Washington berulang kali menyatakan terlibat dalam pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz, namun klaim tersebut dibantah oleh Teheran.

Pada Sabtu (8/8), Iran kembali menegaskan syarat-syaratnya untuk membuka kembali selat tersebut sepenuhnya, termasuk diakhirinya blokade laut oleh AS, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.

“Selama kita belum melihat arus pasokan benar-benar kembali normal, saya pikir risiko geopolitik akan terus menjadi penopang harga minyak mentah,” kata Chief Investment Officer Karobaar Capital LP yang berbasis di Chicago, Haris Khurshid dikutip dari Bloomberg, Senin (10/8).

Risiko kembali memanasnya konflik di Timur Tengah masih tinggi sehingga membuat pasar tetap waspada. Kapal tanker lain yang dioperasikan Abu Dhabi National Oil Co. menjadi sasaran di Selat Hormuz pada akhir pekan.

Tak hanya Selat Hormuz, panasnya kondisi Timur Tengah juga terjadi di tengah konflik kelompok militan Houthi. Kelompok yang didukung Iran di Yaman mengklaim telah menyerang kilang minyak Jazan milik Arab Saudi.

Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan kebakaran di Jazan berhasil dipadamkan pada Minggu (9/8) dini hari. Namun, kementerian tersebut tidak memberikan keterangan mengenai penyebab kebakaran.

Kebakaran ini setidaknya menjadi insiden kedua yang terjadi di fasilitas tersebut dalam sebulan terakhir. Sebelumnya, citra satelit menunjukkan kebakaran pada sebuah tangki di fasilitas minyak Jazan pada akhir Juli, setelah Houthi mengklaim telah melakukan serangan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani