Pertamina Kembangkan Proyek Sulap Limbah Sawit Jadi Bio-Metanol
Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), subholding Pertamina di bidang energi baru dan terbarukan berencana mengembangkan fasilitas percontohan biogas menjadi bio-methanol di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara. Hal ini dilakukan melalui Joint Development Agreement (JDA) bersama perusahaan teknologi Singapura, CRecTech Pte. Ltd.
Proyek percontohan itu memiliki kapasitas sekitar 50 ton bio-metanol per tahun. Bio-metanol ini akan didapatkan dari pemanfaatan biogas yang berasal dari Palm Oil Mill Effluent (POME) pada PLTBg Sei Mangkei milik Pertamina NRE. POME adalah limbah cair sisa pengolahan tandan buah segar kelapa sawit menjadi minyak sawit mentah (CPO).
Teknologi katalis CRecREF milik CRecTech memungkinkan proses konversi biogas menjadi metanol dilakukan melalui dua tahap, dibandingkan proses konvensional yang membutuhkan empat tahap, dengan potensi menekan biaya produksi hingga 50%. Pengembangan fasilitas percontohan ini akan menjadi basis bagi pengembangan proyek dalam skala komersial.
Pengembangan bio-metanol berbasis biogas menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi sumber daya dan pengembangan energi rendah karbon. Melalui pemanfaatan POME sebagai sumber biogas, rencana ini berpotensi menangkap emisi metana yang sebelumnya terlepas ke atmosfer, sekaligus mengubah limbah industri kelapa sawit menjadi produk energi bernilai tambah.
Selain mendukung diversifikasi energi dan penguatan ketahanan energi nasional, pengembangan ini membuka peluang pemanfaatan bio-methanol untuk kebutuhan domestik maupun pasar internasional.
Proyek percontohan ini termasuk dalam satu dari tiga komponen pembangunan rantai nilai end-to-end bio-metanol berbasis biogas di Indonesia. Selain pilot project, pengembangan biogas menjadi bio-metanol dilakukan melalui pembukaan jalur penyerapan bio-metanol di pasar domestik. Hal ini ditandai dengan Heads of Agreement (HoA) bersama PT Pertamina Petrochemical Trading (Pertachem).
Dalam kesepakatan penyerapan, kedua perusahaan akan membahas kerangka kerja menuju skema offtake jangka panjang pada fase komersial. Menurut Pertamina, langkah ini diperlukan di tengah kebutuhan methanol nasional yang mendekati dua juta ton per tahun, dengan sekitar dua pertiganya masih dipenuhi melalui impor.
Kerja sama ketiga yang dilakukan Pertamina yakni jajaki peluang pasokan dan pemasaran bio-metanol sebagai bahan bakar kapal (marine fuel/bunkering) di pasar internasional bersama Pertamina International Marketing & Distribution Pte. Ltd. (PIMD).
Perusahaan menyebut rencana ini sejalan dengan arah dekarbonisasi sektor maritim global yang mendorong penggunaan bahan bakar rendah karbon. Hal ini membuka peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam penyediaan bahan bakar maritim rendah karbon di pasar global.
“Penandatanganan hari ini bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan bukti konkret bahwa kami sedang membangun rantai nilai secara lengkap, mulai dari produksi bersama CRecTech, domestic offtake bersama Pertachem, hingga membuka jalur menuju pasar bahan bakar maritim internasional bersama PIMD,” ujar Direktur Utama Pertamina NRE John Anis dalam siaran pers, dikutip Rabu (19/8).