Harga Minyak Naik ke US$ 95 per Barel di Tengah Serangan Baru AS - Iran
Harga minyak naik dalam tiga sesi berturut-turut setelah eskalasi perang antara AS dan Iran di Timur Tengah. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran gangguan lebih lama terhadap arus energi melalui Selat Hormuz.
Harga Brent naik 1% menjadi US$ 95,60 per barel pada pukul 08.06 waktu Singapura. Sementara itu West Texas Intermediate (WTI) naik 1% menjadi US$ 91,12 per barel, setelah melonjak 5,2% pada sesi sebelumnya. Kenaikan tersebut merupakan yang terbesar dalam lima pekan.
Presiden Donald Trump mengatakan aksi militer AS merupakan balasan atas upaya Iran memasang ranjau di Selat Hormuz serta serangan terhadap pangkalan militer AS. Trump memperingatkan akan ada serangan lanjutan jika Teheran memberikan respons.
Dalam hitungan jam, Iran membalas dengan menyerang Yordania, Bahrain, dan Kuwait, yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan pertempuran yang kembali pecah telah semakin memperketat penutupan Selat Hormuz.
“Perubahan eskalasi yang berlangsung cepat dalam 36 jam terakhir mendorong harga minyak lebih tinggi. Sebab adanya kemungkinan terjadi gangguan lebih lanjut melalui selat tersebut, atau serangan terhadap infrastruktur minyak yang lebih luas, mulai diperhitungkan sebagai premi risiko,” kata Analis Energi Senior di MST Marquee, Saul Kavonic, dikutip dari Bloomberg, Rabu (2/9).
Pertempuran yang kembali pecah tersebut terjadi setelah beberapa pekan relatif tenang. Dalam periode itu, AS mengatakan tengah mengalihkan fokus dari aksi militer menuju tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Harga minyak mentah hanya mencatat kenaikan tipis pada bulan lalu, tetapi masih berada lebih dari 30% di atas level sebelum perang yang dimulai pada akhir Februari. Produk olahan minyak seperti diesel mengalami kenaikan yang lebih tajam akibat konflik di Timur Tengah serta perang antara Rusia dan Ukraina.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Iran saat ini berada dalam fase percepatan kebangkrutan. Dia menyebut sebanyak 17 juta barel minyak mentah keluar melalui Selat Hormuz pada Senin, seraya menyatakan Iran tidak memiliki kendali atas selat tersebut.
Sebelum perang Iran berlangsung, sekitar seperlima minyak dunia dan gas alam cair (LNG) dikirim melalui Selat Hormuz menuju pasar global.
Sejumlah minyak mentah masih diekspor dari Teluk Persia, sering kali menggunakan kapal tanker yang mematikan transpondernya untuk menghindari deteksi. Namun, ancaman terhadap pelayaran masih tetap tinggi.
Komando Pusat AS (US Central Command) mengatakan pasukan AS berhasil menyelesaikan serangkaian serangan terhadap target militer Iran pada 1 September. Mereka menyasar pertahanan udara, sistem radar, serta kemampuan Iran untuk memasang ranjau.